RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Bank Dunia Bunyikan Alarm: Kelas Menengah Indonesi...

Ekonomi

Bank Dunia Bunyikan Alarm: Kelas Menengah Indonesia Makin Terjepit

World Bank memperingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi 5% belum cukup menyelamatkan kelas menengah Indonesia, selama kualitas lapangan kerja terus memburuk dan upah riil pekerja tergerus.

Pertumbuhan Tak Mampu Angkat Kelas Menengah

Pertumbuhan ekonomi 5% per tahun ternyata bukan jaminan. Kelas menengah Indonesia, kelompok yang selama ini jadi tulang punggung konsumsi domestik, masih menanggung tekanan yang belum mereda. Laporan terbaru Bank Dunia mempertegas kekhawatiran itu.

Dalam Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026, World Bank secara eksplisit menyebut lemahnya kualitas lapangan kerja dan penurunan upah riil pekerja berkeahlian menengah hingga tinggi sebagai salah satu risiko domestik paling serius. Bukan guncangan dari luar. Bukan sentimen global yang memburuk. Persoalan struktural yang tumbuh dari dalam perut sendiri.

Angka 5% memang terlihat solid di atas kertas. Pertanyaannya: pertumbuhan ini mengalir ke mana? Kalau yang menikmati hanya segmen atas sementara pekerja kelas menengah justru melihat daya beli mereka tergerus inflasi, maka angka makro itu kehilangan maknanya bagi mayoritas rumah tangga. Bisa jadi itulah yang sedang kita saksikan sekarang.

Upah riil, khususnya untuk kelompok pekerja dengan keterampilan menengah dan tinggi, dilaporkan mengalami tekanan. Ironis, karena justru segmen inilah yang seharusnya jadi mesin penggerak kelas menengah. Ketika pendapatan nominal tidak tumbuh cukup kencang untuk mengimbangi kenaikan harga, mereka mundur selangkah secara efektif. Pelan tapi pasti.

Kelas menengah Indonesia sudah lama terjepit di posisi paling tidak nyaman dalam struktur sosial. Terlalu "kaya" untuk dapat bantuan sosial pemerintah, tidak cukup berada untuk kebal dari guncangan. Biaya pendidikan naik. Biaya kesehatan naik. Cicilan rumah menghimpit. Dan kini upah riil pun tidak berpihak. Entah kebetulan atau tidak, semua tekanan itu datang bersamaan.

Yang memperburuk gambaran ini adalah soal mutu lapangan kerja. Bukan sekadar berapa orang yang bekerja, tapi jenis pekerjaan apa yang tersedia. Lapangan kerja informal yang mengembang mungkin menekan angka pengangguran, tapi tidak otomatis mengangkat standar hidup. Pekerja yang berpindah dari sektor formal ke informal, atau terjebak di pekerjaan berproduktivitas rendah, tidak akan naik kelas. Mereka justru berisiko tergelincir.

World Bank memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap di kisaran 5% dalam beberapa tahun mendatang. Cukup untuk menjaga stabilitas. Belum tentu cukup untuk mendorong mobilitas sosial yang bermakna, selama persoalan struktural di pasar tenaga kerja belum dibereskan. Setidaknya itu kesimpulan yang sulit dibantah dari laporan ini.

Bagi investor, ini sinyal yang patut dicermati dengan serius. Konsumsi rumah tangga selama ini jadi penyangga utama PDB Indonesia. Kalau daya beli kelas menengah terus tergerus, tekanan terhadap sektor ritel, properti segmen tengah, hingga perbankan konsumer bisa lebih dalam dari yang diperkirakan konsensus pasar.