RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Batu Bara Membara 5 Hari Beruntun, India dan China...

Ekonomi

Batu Bara Membara 5 Hari Beruntun, India dan China Jadi Bahan Bakarnya

Harga batu bara melesat 11,4% dalam lima sesi perdagangan berturut-turut ke level tertinggi tiga minggu, ditopang rekor permintaan listrik India yang tembus 256,1 GW dan pasar termal China yang tetap solid.

Sepanjang pekan lalu, batu bara bergerak seperti tidak kenal rem. Lima sesi beruntun menguat, total kenaikan 11,4%, dan harga kontrak Juni 2026 ditutup di US$ 134,1 per ton pada Senin (27/4), naik 3% dalam sehari. Kontrak Juli sudah nongkrong di US$ 135,15 per ton. Bukan angka kecil.

Pemicunya bukan satu, tapi dua raksasa sekaligus: India dan China, dua konsumen terbesar di muka bumi, sama-sama menunjukkan sinyal lapar energi yang sulit disembunyikan.

Gelombang panas yang melanda Asia Selatan menghajar kebutuhan listrik India hingga ke rekor yang belum pernah tersentuh. Permintaan listrik puncak tembus 256,1 gigawatt pada 25 April, melampaui rekor sehari sebelumnya sebesar 252,08 GW. Tidak ada ruang negosiasi: pembangkit batu bara dipaksa bekerja penuh hingga 187 GW, sementara sekitar 9,6 GW pembangkit gas ikut dioperasikan untuk menambal kekurangan. NTPC Limited, produsen termal terbesar di sana, sampai membeli gas tambahan lewat bursa domestik demi menjaga pasokan tidak jebol.

India bahkan memperkirakan puncak kebutuhan listrik tahun ini bisa menyentuh 270 GW. Pemeliharaan hampir 10.000 MW kapasitas PLTU ditunda hingga Juli. Agaknya mereka sadar, memotong pasokan di musim panas seperti ini bisa berakhir buruk.

China justru menghadirkan kejutan tersendiri. Jalur logistik Daqin Railway yang sempat dalam pemeliharaan sudah kembali beroperasi. Secara teori, ini mestinya menambah pasokan dan menekan harga. Tidak terjadi. Pasar tetap solid karena konsumsi musim panas diperkirakan menyerap habis tambahan pasokan tersebut. AC menyala sepanjang hari, industri berputar, dan batu bara domestik China tetap kompetitif lantaran biaya impor yang terbilang tinggi. Produksi harian masih di atas 12,5 juta ton, sedangkan stok di pembangkit besar mencapai 190 juta ton, cukup untuk sekitar 32 hari pemakaian. Stabil, tapi jangan terlena.

Pertanyaannya: kalau pasokan bertambah tapi harga tidak bergerak, siapa yang benar-benar mengendalikan pasar ini?

Geopolitik turut menyumbang. Premi risiko energi global meningkat seiring ketidakpastian pasokan akibat konflik yang belum mereda, mendorong pembeli mengamankan batu bara lebih awal. Klasik, tapi efeknya nyata.

Bagi investor di Bursa Efek Indonesia, tren ini bak gayung bersambut. Emiten batu bara domestik berpotensi menikmati kenaikan average selling price kuartal ini, yang pada gilirannya bisa mendongkrak margin bersih secara berarti. Indonesia, salah satu eksportir batu bara termal terbesar dunia, sedang berada di posisi yang tidak buruk-buruk amat.

Musim panas belum usai. Seberapa lama India dan China bisa terus menarik permintaan sekencang ini? Entah. Tapi pasar, untuk saat ini, memilih percaya.