Dari jurang 5.342 menuju 6.007 dalam hitungan empat hari perdagangan. Itulah gambaran singkat drama IHSG pekan ini, sebuah pembalikan yang, jujur saja, tidak banyak analis prediksi secepat ini.
Pemulihan dimulai Selasa (9/6) setelah IHSG sempat ambles ke level terendahnya dalam 5,5 tahun terakhir pada Senin (8/6). Dua katalis utama membalik sentimen: DPR RI yang mendorong BUMN menggelar buyback, dan keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga 25 basis poin di luar jadwal Rapat Dewan Gubernur bulanan. Langkah BI yang tak terduga itu sekaligus mengangkat rupiah dari 18.190 per dolar pada Senin menjadi 17.779 pada Jumat (12/6).
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi bintang paling bersinar pekan ini. Saham bank milik Grup Djarum itu melonjak 16,75% dan menyumbang 79,63 poin ke IHSG, jauh melampaui kontributor kedua PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang naik 9,38% dengan sumbangan 28,17 poin. Di luar dua raksasa perbankan itu, kejutan datang dari PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) yang melejit 17,5% dan menyumbang 24,26 poin, serta PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang meledak 35,25% dengan kontribusi 18,96 poin. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) melengkapi lima besar dengan kenaikan 13,65% dan kontribusi 18,08 poin.
Sektor finansial (IDXFINANCE) pun menjadi indeks sektoral dengan apresiasi tertinggi, naik 9,67% dalam sepekan. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) turut mendorong indeks, masing-masing menyumbang 17,25 poin dan 11,33 poin, meski tidak masuk lima besar.
Aksi unjuk rasa mahasiswa dari Universitas Indonesia dan sejumlah kampus lain pada Jumat (12/6) agaknya tidak cukup kuat menggoyahkan momentum. IHSG masih naik tipis 2,07% di hari itu, lalu resmi menutup pekan di 6.007,66. Total penguatan dari titik terendah: 7,38%. Tidak main-main.
Dengan kinerja itu, IHSG menjadi indeks terbaik di Asia Tenggara pekan ini, mengalahkan Thailand yang hanya naik 0,62%. Indeks Singapura, Filipina, Malaysia, dan Vietnam justru merosot di kisaran 0,5 hingga 1,8%. Bukan hasil yang buruk untuk pasar yang baru saja merayap keluar dari level terendah multi-tahun.
Danantara Indonesia membaca penguatan ini sebagai konfirmasi meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional. COO Danantara sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria menilai apresiasi pasar modal sebagai bukti investor semakin melihat potensi jangka panjang Indonesia. "Kita tentu berterima kasih kepada seluruh investor yang menunjukkan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi kita maupun fundamental perusahaan-perusahaan Indonesia. Kinerja yang baik tersebut membuat IHSG menguat cukup signifikan, termasuk rupiah yang juga menunjukkan penguatan," kata Dony usai Flag Off BTN Jakarta International Marathon di Monas, Jakarta, Minggu.
Soal buyback BUMN yang jadi salah satu pemantik reli, Dony menyebutnya mekanisme bisnis yang wajar, bukan langkah darurat. "Buyback itu sebetulnya proses yang normal. Kalau kita melihat saham kita terlalu rendah, tentu pasti kita ambil. Sayang kan daripada investasi di tempat lain," katanya.
Dimensi lain datang dari Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Nixon LP Napitupulu: pemulihan pasar modal perlu diimbangi pergerakan sektor riil. BTN, tegasnya, tidak akan menunggu pasar bergerak sendiri. "Kita harus bisa menciptakan demand, jangan hanya menunggu market. Karena itu, BTN terus mendorong berbagai strategi supaya sektor perumahan tetap bergerak dan masyarakat tetap memiliki akses untuk membeli rumah," ujar Nixon.
Pertanyaan yang kini menggantung: apakah reli ini punya kaki yang cukup panjang, atau sekadar technical rebound setelah pasar kelewat oversold? Investor yang sempat nyangkut di atas 7.000 tentu masih menghitung jarak yang harus ditempuh.