RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  BBCA Melesat Hampir 10%, BI Rate dan Rupiah Jadi B...

Finansial

BBCA Melesat Hampir 10%, BI Rate dan Rupiah Jadi Bahan Bakarnya

Saham BBCA melonjak hingga 9,7% ke Rp5.650 pada perdagangan Rabu (10/6/2026), melanjutkan reli sehari sebelumnya yang sudah tembus 6%. Kenaikan BI Rate dan penguatan rupiah ke bawah Rp18.000 jadi katalis utama.

Saham BBCA Disorot - Halaman all

Dua hari berturut-turut, BBCA bikin pasar terkejut. Setelah melejit 6,19% pada Selasa (9/6/2026), saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali dihajar beli pada Rabu (10/6/2026) dan akhirnya ditutup melesat 9,7% ke Rp5.650 per saham. Harga tertinggi intraday sempat menyentuh Rp5.700, sementara batas bawahnya pun bertahan di Rp5.175, sudah lebih tinggi dari penutupan hari sebelumnya. Bukan angka kecil untuk emiten bank swasta terbesar di Indonesia.

Volume transaksi ikut meledak. Sebanyak 743 juta saham berpindah tangan, nilai transaksi menembus Rp4 triliun, frekuensi 122.030 kali. Angka itu melengkapi momentum yang sudah terbangun sejak sesi pagi, ketika sekitar pukul 09.25 WIB saham BCA lebih dulu naik 4,37% ke Rp5.375 dengan net buy tertinggi di pasar, menyentuh Rp245 miliar.

Katalis utamanya sudah jelas: Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 5,50%. Langkah BI ini dibaca pasar sebagai sinyal komitmen serius terhadap stabilisasi nilai tukar dan pengendalian inflasi, sekaligus mengerek daya tarik Indonesia di mata investor asing yang selama ini jadi penjual bersih. Bagi sektor perbankan, khususnya bank dengan struktur pendanaan sekuat BCA, kenaikan suku bunga secara historis lebih banyak menguntungkan dari sisi net interest margin.

Rupiah ikut bergerak searah. Nilai tukar terhadap dolar AS kembali menguat ke kisaran Rp17.900, setelah sebelumnya sempat menembus batas psikologis Rp18.000. Penguatan ini, bersama tiga katalis yang diidentifikasi BRI Danareksa Sekuritas, membentuk fondasi rebound yang lebih solid. Katalis kedua adalah munculnya wacana buyback saham Himbara yang melibatkan DPR, Danantara, dan BPJS, sinyal koordinasi domestik untuk menahan tekanan jual. Ketiga, klarifikasi pemerintah soal mekanisme ekspor yang menepis kekhawatiran soal gross split, sehingga risiko gangguan arus kas eksportir mereda.

Kenaikan harga Pertamax sebesar 32% ke Rp16.250 per liter juga ikut disebut sebagai salah satu pemicu penguatan IHSG. Stockbit Sekuritas mencatat bahwa meski secara regulasi Pertamax bukan BBM subsidi, ada pernyataan Pertamina pada Mei 2026 bahwa selisih harga keekonomian ditanggung dulu oleh Pertamina sebelum pemerintah membayar kompensasi, yang artinya kenaikan harga jual Pertamax berpotensi mengurangi beban APBN. "Kami menilai bahwa masih terdapat ketidakjelasan apakah kenaikan harga jual Pertamax memiliki hubungan langsung atau tidak terhadap APBN. Namun, kami menilai bahwa kenaikan harga jual Pertamax ini tetap memberikan sinyal kedisiplinan terkait harga energi," sebut Stockbit.

Di sisi teknikal, CGS International Sekuritas sebelumnya merekomendasikan spec buy BBCA dengan support di 5.050 dan target jangka pendek 5.250 hingga 5.350. Target itu sudah terlampaui jauh. Cutloss ditetapkan di bawah 4.950. Level yang kini terasa seperti cerita lama.

Menariknya, sepanjang reli dua hari ini investor asing justru masih tercatat net sell Rp468,35 miliar pada Selasa kemarin. Yang mengisi kekosongan itu institusi domestik: Mandiri Sekuritas membukukan net buy Rp437,3 miliar, JP Morgan Sekuritas Rp228 miliar, dan Macquarie Sekuritas Rp173 miliar. Entah kebetulan atau tidak, pola ini agaknya menggambarkan rotasi yang sedang berlangsung, asing keluar, domestik masuk, dan harga tetap naik. Pertanyaannya, berapa lama tren ini bertahan?

IHSG sendiri pada Selasa kemarin ditutup meledak 7,57% ke 5.746, dengan 678 saham menghijau dan nilai transaksi BEI melampaui Rp27,8 triliun. Rebound perdana sejak 3 Juni 2026, setelah sebelumnya selalu terperosok ke zona merah. BBCA jelas jadi salah satu lokomotif utamanya.