RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  BBM Nonsubsidi Dihajar Kenaikan, Pertamax Masih Na...

Ekonomi

BBM Nonsubsidi Dihajar Kenaikan, Pertamax Masih Nantikan Giliran

Pertamina menaikkan harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex hingga lebih dari 60% per 18 April 2026. Pertamax dan Pertamax Green masih dalam evaluasi.

Tiga produk BBM nonsubsidi Pertamina resmi naik harga per Sabtu (18/4), dan kenaikannya bukan angka kecil.

Pertamax Turbo melonjak dari Rp13.100 menjadi Rp19.400 per liter. Dexlite terkerek dari Rp14.200 ke Rp23.600 per liter. Pertamina Dex dari Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter. Bagi pengguna solar diesel nonsubsidi, kenaikan itu setara lebih dari 60% dalam sekali penyesuaian. Masif.

Pemicunya? Harga minyak dunia yang menembus US$100 per barel seiring perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang belum juga reda. Penyesuaian mengacu pada Keputusan Menteri ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022 tentang formula harga dasar BBM umum. Bukan kebijakan mendadak, ini memang mekanisme yang sudah diatur sejak lama.

Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green 95 belum ikut bergerak. Keduanya masih dibanderol Rp12.300 dan Rp12.900 per liter. Tapi jangan terlena dulu.

"Masih dalam evaluasi," ujar Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun, Minggu (19/4). Singkat, tapi kalimat itu cukup untuk memberi sinyal bahwa penyesuaian bisa datang kapan saja.

Pertamina memastikan setiap keputusan harga dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat. Klaim yang masih perlu dibuktikan, mengingat besarnya lompatan harga pada tiga produk yang baru saja disesuaikan.

Pertalite dan Biosolar tetap di posisi Rp10.000 dan Rp6.800 per liter. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah hanya mengatur harga BBM bersubsidi, sementara segmen nonsubsidi mengikuti pasar. Logikanya jelas, konsekuensinya kini terasa di SPBU.

BP pun bergerak seiring. BP Ultimate Diesel tercatat naik tajam ke Rp25.560 per liter dari sebelumnya Rp14.620 per liter. BP 92 dan BP Ultimate masing-masing masih di Rp12.390 dan Rp12.930 per liter. Shell dan Vivo, agaknya, belum mengikuti. Kedua operator asing itu belum mengumumkan penyesuaian sejak awal Maret, dan kini mulai menghadapi kelangkaan stok terutama untuk jenis solar.

Kelangkaan stok di Shell dan Vivo bisa jadi bom waktu tersendiri. Kalau harga tidak disesuaikan sementara pasokan seret, konsumen bakal berebut ke SPBU yang masih buka dengan harga lama. Entah kebetulan atau tidak, momentum ini justru memperkuat posisi Pertamina di segmen premium.

Sepanjang kawasan Asia, tren serupa sudah berjalan lebih dulu. Singapura, Malaysia, Vietnam, Australia, Jepang, dan Korea Selatan sudah menaikkan harga BBM mengikuti mekanisme pasar. Pakistan dan Bangladesh kena tampar lebih berat lagi karena keterbatasan fiskal dan cadangan energi yang lebih tipis.

Pertanyaannya sekarang cuma satu: seberapa lama Pertamax bisa bertahan di Rp12.300?