RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  BBRI Buyback Rp500 Miliar: Manajemen Yakin Saham M...

Finansial

BBRI Buyback Rp500 Miliar: Manajemen Yakin Saham Masih Terlalu Murah

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk meluncurkan program buyback senilai maksimal Rp500 miliar mulai 12 Juni hingga 11 September 2026, dengan dalih valuasi BBRI belum mencerminkan nilai wajarnya di tengah gejolak pasar global.

BRI Siapkan Buyback Saham hingga Rp 500 Miliar, Tegaskan Fundamental dan Prospek Tetap Kuat

Saham BBRI ditutup menguat 0,70 persen ke level Rp2.870 pada Jumat (12/6/2026), tepat di hari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mengumumkan rencana buyback senilai maksimal Rp500 miliar. Sinyal yang agaknya bukan kebetulan.

Program pembelian kembali saham ini dijadwalkan tiga bulan, mulai 12 Juni hingga 11 September 2026, melalui Bursa Efek Indonesia dengan menunjuk satu anggota bursa sebagai perantara. Seluruh pendanaan dari kas internal perseroan, mengacu pada POJK Nomor 13 Tahun 2023 dan Surat OJK Nomor S-10/D.04/2026 yang mengatur kebijakan buyback saat pasar dihajar volatilitas.

Alasan manajemen terang-terangan. Corporate Secretary BRI Dhanny menyatakan valuasi BBRI belum sepenuhnya mencerminkan kinerja dan potensi bisnis perseroan. "Kami menilai valuasi BBRI saat ini masih berada di bawah nilai wajarnya atau belum sepenuhnya merefleksikan kinerja dan potensi bisnis perseroan," kata Dhanny dalam keterbukaan informasi, Jumat (12/6/2026). Setidaknya itu klaim manajemen, dan kali ini mereka menaruh uang sungguhan di meja.

Dari sisi permodalan, angkanya cukup meyakinkan. Proforma laporan keuangan konsolidasian per 31 Maret 2026 mencatat Capital Adequacy Ratio 22,86 persen dan Return on Equity 18,37 persen. Buyback memang akan memangkas total aset dan ekuitas masing-masing Rp500 miliar, tapi laba per saham justru sedikit terkerek dari Rp103,83 menjadi Rp103,95 per lembar. Bagi bank sebesar BBRI, dampaknya tidak material.

Ada satu detail yang patut dicermati soal batas kepemilikan. Jumlah saham treasuri setelah buyback tidak boleh melampaui 10 persen dari modal yang ditempatkan dan disetor. Saat ini porsi treasuri BBRI baru 0,565 persen, jauh dari batas itu. PT Danantara Asset Management menggenggam mayoritas 52,656 persen, publik menguasai sekitar 46,773 persen. Ruang untuk buyback masih sangat longgar.

Saham hasil buyback akan dialihkan lewat program MESOP (Management and Employee Stock Ownership Program), yakni kepemilikan saham bagi pekerja, direksi, dan dewan komisaris, setelah mendapat restu RUPS. Bukan sekadar taktik stabilisasi harga, ini juga insentif jangka panjang untuk orang dalam.

Dhanny menyebut keputusan ini lahir dari tekanan berlapis yang mengepung pasar: ketidakpastian ekonomi global, tensi geopolitik di Timur Tengah yang makin panas, kenaikan harga minyak, derasnya capital outflow dari pasar berkembang termasuk Indonesia. Bagi BRI, kondisi ini justru jadi momentum. Beli murah sebelum pasar sadar.

Perkan lalu saham BBRI sempat terseret ke zona merah, bergerak di rentang Rp2.620 hingga Rp2.750, sebelum rebound di Jumat sore. Bagi investor ritel yang nyangkut di harga atas, program ini bisa jadi angin segar: ada "pembeli besar" yang siap menyerap tekanan jual selama tiga bulan. Pertanyaannya, cukup tidak tiga bulan untuk mengubah sentimen?