Secara valuasi, Bitcoin sudah dekat lantai. Soal permintaan? Ceritanya jauh lebih kusut.
BTC diperdagangkan di kisaran US$62.800 setelah menyentuh titik terendah Juni di sekitar US$59.000, hanya 9% di atas harga realisasi US$53.600 yang mencerminkan rata-rata biaya akuisisi seluruh koin beredar. Zona ini bukan angka sembarangan. Bear market sebelumnya kerap berakhir di level yang berdekatan dengan, atau sedikit di bawah, harga realisasi. Sejarah bilang begitu, setidaknya.
CryptoQuant menyebut level ini sebagai "zona nilai", bukan bottom yang sudah terkonfirmasi. Kalimat itu penting. Ada jarak besar antara "harga sudah murah" dan "sudah waktunya beli".
Yang bikin analis on-chain mengernyit bukan soal harga, melainkan data di baliknya. Permintaan BTC menyusut 652.000 koin dalam 30 hari, penurunan paling tajam sejak Januari 2022. CryptoQuant mencatat pola ini hanya muncul tiga kali sejak 2019: menjelang crash COVID awal 2020 dan di kedalaman bear market 2022. Dua preseden yang tidak membuat investor tidur nyenyak.
Capriole Investments mengukur dengan metrik berbeda. Apparent Demand mereka mencatat saldo minus 8.761 BTC, berada di persentil terbawah 2,6% dalam empat tahun terakhir. "Waduh. Bitcoin jarang membukukan kinerja positif saat Apparent Demand turun," tulis CEO Capriole Charles Edwards di X. Singkat. Tapi cukup menggambarkan situasinya.
Kelemahan tidak datang dari satu sisi saja. Permintaan spot dan futures perpetual sama-sama rontok, artinya ini bukan sekadar deleveraging posisi spekulatif. Permintaan organik pun ikut terkikis. Coinbase Premium masih di zona diskon ketika harga mendekati US$60.000, sinyal bahwa pembeli spot AS belum beranjak dari pinggir lapangan.
Dari sisi institusi, arus masuk corporate treasury yang sempat menembus US$500 juta per hari kini tinggal serpihan. ETF Bitcoin spot, yang selama beberapa kuartal terakhir jadi tulang punggung permintaan struktural, justru mencatat arus keluar konsisten sepanjang Mei dan Juni. "Penurunan akumulasi ini menandakan kelompok ini menjadi lebih berhati-hati, sehingga menghilangkan lagi satu sumber permintaan marjinal di saat sentimen pasar yang lebih luas masih lemah," terang Glassnode dalam laporan Week On-Chain terbarunya.
Kapitulasi pun, agaknya, belum tuntas. Realized losses baru menyentuh 187.000 BTC, jauh di bawah 1,2 juta BTC yang terjual saat pasar menyentuh dasar di 2022. Masih ada "suplai penjual bermotivasi" yang mengantre, meminjam istilah CryptoQuant. Belum habis.
Analis CryptoQuant MoneroDV_ memberi peringatan yang lebih suram. Bukan koreksi yang perlu ditakuti, melainkan fase "anestesi" yang mengikutinya: momentum lemah, aktivitas tertekan, harga bergerak sideways berkepanjangan. Fase yang, menurut dia, secara psikologis bisa lebih merusak ketimbang penurunan harga itu sendiri. Bagi trader ritel yang sudah nyangkut di harga tinggi, skenario ini terdengar sangat familier.
US$59.000. Itulah level yang kini jadi titik acuan semua pihak, sekitar 6% di bawah harga spot. Kalau jebol, harga realisasi di US$53.600 jadi target berikutnya. Di sisi sebaliknya, penutupan harian di atas US$66.000 bisa mulai menggerus narasi bearish dan mengindikasikan permintaan perlahan kembali. Pemulihan arus ETF tetap jadi katalis paling realistis untuk memicu skenario itu.
BTC masih 50% di bawah puncak siklus yang tercetak di atas US$126.000 pada akhir 2025. Angka itu, bagi siapa pun yang membeli di dekat puncak, bukan sekadar statistik.