RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Bitcoin Tergerus 14%, Perusahaan Treasury Kripto K...

Finansial

Bitcoin Tergerus 14%, Perusahaan Treasury Kripto Kehilangan US$62 Miliar dalam Hitungan Minggu

Valuasi gabungan perusahaan Digital-Asset Treasury global amblas dari US$134 miliar ke US$72 miliar hanya dalam hitungan minggu, memaksa banyak emiten putar haluan dari akumulasi ke sekadar bertahan hidup.

Bitcoin (BTC) Tertekan, Perusahaan Treasury Kripto Kehilangan Valuasi US$ 62 Miliar - Halaman all

Angka US$62 miliar lenyap. Bukan dalam setahun, bukan dalam sebulan, dalam hitungan minggu.

Itulah yang terjadi pada perusahaan-perusahaan Digital-Asset Treasury (DAT) global setelah Bitcoin tergerus hampir 14% ke level terendahnya dalam empat bulan. Model bisnis yang sempat dipuja sebagai inovasi keuangan paling seksi di Wall Street kini dihajar realita.

Data dari Artemis menunjukkan valuasi pasar gabungan saham perusahaan treasury Bitcoin kini bertengger di angka US$72 miliar, turun dari puncaknya US$134 miliar pada awal Oktober 2026. Dalam konteks lokal, kerugian kertas ini setara lebih dari Rp1.000 triliun.

Model bisnisnya, jujur saja, terdengar elegan di atas kertas: perusahaan menumpuk Bitcoin, menerbitkan saham, membeli lebih banyak token, lalu ulangi. Saat harga kripto melambung, strategi ini bekerja bak mesin uang. Begitu Bitcoin mulai melemah, strukturnya terbukti rapuh.

"Dengan harga yang terus merosot, perusahaan treasury aset digital kini dihadapkan pada pilihan sulit: gagal bayar utang atau terpaksa menjual aset mereka," ujar Hayden Hughes, Managing Partner Tokenize Capital. Penjualan paksa itu, menurut Hughes, meruntuhkan narasi utama yang selama ini dijual kepada investor, bahwa perusahaan-perusahaan ini adalah buyer permanen yang tak akan pernah melepas koin mereka.

Buktinya sudah mulai kelihatan. Nakamoto terpaksa melakukan reverse stock split dengan rasio ekstrem 1:40 setelah sahamnya amblas hampir 100% dalam setahun. Metaplanet, perusahaan asal Jepang, juga tertekan, dengan investor yang kehilangan kesabaran atas lambatnya progres penawaran saham preferen mereka.

Fokus banyak perusahaan kini telah bergeser dari agresif mengakumulasi menjadi sekadar bertahan hidup. Restrukturisasi utang, penerbitan sekuritas preferen, hingga menjual Bitcoin yang sebelumnya dijanjikan tersimpan selamanya, semua dilakukan. Ironi yang tidak lucu bagi pemegang saham.

Akshat Vaidya, salah satu pendiri Maelstrom, mencatat bahwa perusahaan-perusahaan ini secara kolektif menggenggam lebih dari 5% total pasokan Bitcoin yang beredar. Konsentrasi sebesar ini, bisa jadi, justru menjadi bom waktu jika tekanan jual terjadi bersamaan. Kalau data ini bisa dipercaya, skenario itu bukan lagi sekadar hipotetis.

Carney Mak, mitra di FXHB Asset Management, melihat ini sebagai pelajaran yang mahal. "Pertanyaannya bukan lagi apakah Bitcoin adalah pilihan yang tepat, melainkan apakah perdagangan treasury Bitcoin ini sudah terlalu ramai," kata Mak. Ketika puluhan perusahaan kecil meniru strategi tanpa skala, likuiditas, atau akses modal yang memadai, hasilnya bisa ditebak.

Apa yang dulu dipasarkan sebagai strategi akumulasi sederhana kini berubah menjadi ajang perebutan modal, sementara premium valuasi saham terus pudar. Investor ritel yang masuk dengan ekspektasi eksposur Bitcoin "versi aman" lewat saham justru menanggung volatilitas berlipat: tertekan harga Bitcoin sekaligus diskon valuasi.

Pertanyaannya, berapa banyak dari perusahaan-perusahaan ini yang masih akan berdiri ketika siklus berikutnya tiba?