RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Bitcoin Tertahan di US$65.000, dan AI-lah yang Dia...

Finansial

Bitcoin Tertahan di US$65.000, dan AI-lah yang Diam-Diam Jadi Biang Keroknya

Bitcoin kesulitan keluar dari zona US$60.000-US$70.000 meski ETF spot mencatat arus masuk enam hari berturut-turut. Biang keroknya bukan lagi sentimen kripto semata, melainkan inflasi yang dipicu boom investasi AI dan imbal hasil obligasi yang terus merangkak naik.

Mengapa Bitcoin Tertahan di Sekitar US$65.000 saat AI Memicu Inflasi

Enam hari berturut-turut arus masuk positif ke ETF Bitcoin spot AS, dan harga masih juga tidak ke mana-mana. Itulah gambaran Bitcoin sekarang: ada uang masuk, tapi tidak cukup untuk memantik reli yang berarti.

Pada Rabu pekan ini, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$65.975 setelah sempat menembus US$66.000, level tertinggi sejak awal Juni. ETF Bitcoin spot AS mencatat net inflow US$203,2 juta pada Selasa. Lumayan di permukaan. Tapi bila dibandingkan dengan total penarikan US$6,9 miliar sepanjang Mei dan Juni, angka itu bak setetes air di padang pasir.

Tekanan kali ini datang dari arah yang tidak biasa. Bukan sekadar aksi jual whale atau sentimen kripto yang memburuk, melainkan dari dinamika makro yang jauh lebih besar: ledakan investasi kecerdasan buatan yang diam-diam memanaskan inflasi global.

Dalam risalah rapat Juni mereka, The Fed secara terbuka mengaitkan sebagian tekanan inflasi terbaru dengan booming belanja AI. Permintaan masif untuk data center, listrik, dan peralatan teknologi tinggi mendorong harga naik ke level yang membuat bank sentral AS sulit bergerak. Investasi peralatan teknologi tinggi sendiri tumbuh hampir 25% sepanjang tahun hingga kuartal pertama, angka yang diungkapkan langsung oleh Ketua Fed Kevin Warsh.

Buktinya ada di laporan keuangan korporat. Alphabet menaikkan proyeksi belanja modal 2026 menjadi US$195 miliar hingga US$205 miliar setelah pendapatan Google Cloud melonjak 82% pada kuartal terbaru. Microsoft memperkirakan menggelontorkan sekitar US$190 miliar tahun kalender ini. Nvidia membukukan pendapatan data center naik 92% secara tahunan menjadi US$75,2 miliar. Perusahaan-perusahaan ini masih berebut chip, server, energi, dan kapasitas konstruksi. Kompetisi itu ada harganya.

Bagi Bitcoin, imbasnya langsung terasa. Inflasi yang bertahan tinggi memangkas ruang The Fed untuk memotong suku bunga, dan pasar tahu itu. Harga konsumen AS masih 3,5% lebih tinggi dibanding tahun lalu, sementara harga produsen naik 5,5%, dua angka yang masih jauh di atas ambang kenyamanan Fed. Imbal hasil obligasi Treasury dua tahun merangkak ke 4,301%, tertinggi dalam lebih dari setahun, sementara yang 10 tahun mendekati 4,66%.

Ketika obligasi pemerintah menawarkan yield segitu, investor institusi punya alasan yang sangat rasional untuk tidak melirik aset volatil. "Untuk saat ini, dolar yang mahal dan imbal hasil obligasi tinggi membuat likuiditas menjauh dari aset berisiko seperti aset kripto," ujar Nikita Zuborev, analis senior di BestChange. Dolar pun mendapat topangan tambahan dari ekspektasi suku bunga dan ketegangan geopolitik, kombinasi yang secara historis menjadi angin sakal bagi Bitcoin.

Pertanyaannya, ke mana perginya modal yang dulu sempat melirik kripto? Evgeny Popov, pemimpin redaksi InvestFuture, punya jawabannya: tersedot ke perusahaan chip, data center, dan infrastruktur energi. "Saat ini di situlah investor melihat adanya peluang cuan, pertumbuhan, dan kisah masa depan yang lebih jelas," kata Popov. Kinerja pasar membuktikannya. Saham semikonduktor masih naik sekitar 69% sepanjang 2026, sedangkan Bitcoin masih tergerus sekitar 25% dari awal tahun.

Adil? Agaknya itulah konsekuensi ketika aset spekulatif harus bersaing di lingkungan suku bunga tinggi sambil berhadapan dengan narasi teknologi yang lebih seksi.

Bitcoin memang tampil lebih baik dari saham chip selama Juli ini, isyarat bahwa ada sebagian modal yang mulai kembali melirik. Tapi untuk benar-benar lepas dari zona US$60.000 hingga US$70.000, Bitcoin butuh lebih dari sekadar beberapa hari arus masuk ETF. Skenario idealnya: inflasi turun, imbal hasil obligasi melemah, dan The Fed yang mulai kurang hawkish. Keputusan suku bunga Fed berikutnya dijadwalkan 29 Juli. Sampai tanggal itu, Bitcoin masih terjebak di persimpangan antara harapan dan tekanan yang belum mereda.