Harga Bitcoin (BTC) menutup pekan ini dengan kepala tertunduk, bertahan di kisaran US$ 64.000 atau sekitar Rp 1,14 miliar per koin, tersandera dua tekanan sekaligus: lonjakan yield obligasi Amerika Serikat dan membaranya konflik AS-Iran di Timur Tengah yang membuat investor kompak mengunci posisi.
Berdasarkan data CoinMarketCap Minggu (26/7/2026), Bitcoin tercatat di level US$ 64.433, terkoreksi 0,46% dalam sepekan. Secara year-to-date, penurunannya sudah mencapai 26,30%, jauh dari puncak sekitar US$ 126.000 yang sempat dicetak sebelumnya. Kapitalisasi pasar kripto global ikut tergerus 0,85% menjadi US$ 2,19 triliun dalam 24 jam terakhir. Ethereum melemah 0,54% ke US$ 1.855, BNB turun 0,41% ke US$ 564.
Yield obligasi pemerintah AS tenor dua tahun kini berada di sekitar 4,31%, melampaui kisaran target suku bunga acuan The Fed. Mosaic Asset Company menyebut lonjakan yield ini pemicu utama tekanan kripto. Yang bikin pasar gelisah: kondisi ini terjadi justru ketika data inflasi konsumen AS terbaru lebih rendah dari perkiraan. Kabar baik sudah tidak mempan. Pasar kini lebih takut bahwa The Fed bakal mempertahankan kebijakan ketat lebih lama dari yang diharapkan. CME FedWatch Tool menunjukkan pelaku pasar mulai memasukkan probabilitas kenaikan suku bunga 25 basis poin pada September, bagian dari dua kali kenaikan yang diprediksi terjadi hingga akhir 2026.
Di front geopolitik, gangguan di Selat Hormuz akibat saling serang antara AS dan Iran telah mendorong harga minyak Brent mendekati bahkan sempat menyentuh kisaran US$ 90-100 per barel. Berat. Analis Reku Andri Fauzan menyebut kondisi ini menempatkan Bitcoin masuk kuartal III 2026 dalam posisi yang menuntut kehati-hatian. "Tekanan jual biasanya muncul dulu karena suasana risk-off, terutama ketika inflasi energi naik dan ekspektasi kebijakan moneter ikut terpengaruh," ujar Andri.
Secara teknikal, level US$ 64.000 kini menjadi garis pertahanan yang diawasi ketat. Analis Wealthmanager memperingatkan, tembus ke bawah angka itu bisa mengubah struktur tren jangka pendek menjadi negatif. Rekt Capital bahkan menyandingkan pola pergerakan saat ini dengan bearish market 2022, mencatat Bitcoin kembali gagal menembus exponential moving average (EMA) 50 bulan di sekitar US$ 65.950. Sampai sekarang belum ada sinyal pembalikan yang meyakinkan, dan investor disarankan tetap waspada terhadap potensi koreksi lanjutan.
Ada secercah harapan, kalau data ini bisa dipercaya. Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur menilai tekanan jual institusional yang sempat menghantam Bitcoin ke US$ 58.500 di akhir kuartal II sebagian besar adalah aksi quarter-end window dressing, bukan pelemahan fundamental. Pola klasik jelang pergantian kuartal. Setelah kuartal baru dimulai, Bitcoin mampu kembali ke area US$ 65.000. ETF Bitcoin spot AS bahkan sempat mencatat tujuh hari berturut-turut arus masuk dana dengan nilai mendekati US$ 1 miliar hingga 22 Juli, meski Fyqieh mengakui angka itu baru menggantikan sebagian kecil dari outflow besar yang terjadi Mei-Juni. "Prospek Bitcoin pada kuartal III 2026 masih cenderung volatil, tetapi mulai menunjukkan peluang pemulihan secara bertahap," ujar Fyqieh.
Andri memproyeksikan Bitcoin bergerak di rentang US$ 60.000-US$ 75.000 sepanjang kuartal ini sebagai skenario basis dengan kecenderungan konsolidasi. Skenario berat membuka ruang tes ke area US$ 50.000-US$ 57.000 jika tekanan berlanjut, sedangkan skenario cerah membuka rebound menuju US$ 80.000 jika ketegangan geopolitik mereda dan aliran modal institusional menguat.
Tiga sentimen akan jadi penentu arah: perkembangan konflik AS-Iran, sinyal kebijakan The Fed dari data ekonomi berikutnya, dan konsistensi arus masuk ETF Bitcoin spot dalam beberapa pekan mendatang. Pertanyaannya, berapa lama pasar betah menunggu kejelasan? Sampai salah satu dari ketiganya bergerak ke arah yang lebih pasti, Bitcoin agaknya masih betah mondar-mandir di zona abu-abu ini.