KAMIS, 22 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  BTN Jakarta International Marathon 2026 Serap 45.0...

Ekonomi

BTN Jakarta International Marathon 2026 Serap 45.000 Pelari, Gerakkan Mesin Ekonomi Ibu Kota

Lebih dari 45.000 pelari memadati koridor Monas hingga GBK dini hari tadi, menjadikan BTN Jakarta International Marathon 2026 bukan sekadar ajang olahraga, tapi sinyal serius Jakarta menuju panggung kota global.

Maka Berlarilah, Jakarta!

Pukul 03.00 dini hari, kawasan Monas sudah tidak bisa disebut sunyi. Lebih dari 45.000 pelari memadati area start BTN Jakarta International Marathon 2026, Minggu (14/6/2026), memenuhi koridor MH Thamrin hingga Jenderal Sudirman dengan derap langkah dan napas tersengal. Dari seluruh penjuru Indonesia. Dari puluhan negara.

Angka 45.000 peserta bukan kaleng-kaleng untuk sebuah event lari. Dari jumlah itu, 1.012 di antaranya warga negara asing yang terbang dari 52 negara: Malaysia menjadi kontributor terbesar dengan 407 pelari, disusul Singapura 133 pelari, dan Korea Selatan 54 pelari. Di sisi domestik, Jakarta menyumbang 14.750 peserta, Jawa Barat 12.030 peserta, dan Banten 5.340 peserta.

Ajang ini berlabel World Athletics Elite, sertifikasi yang tidak mudah diraih dan menjadi jaminan bahwa standar penyelenggaraannya diakui di tingkat internasional. Format lomba terbagi empat kategori selama dua hari: 5K dan 10K pada Sabtu (13/6/2026), lalu half marathon 21,0975 km dan full marathon 42,195 km pada Minggu pagi. Rute membentang dari Monas sebagai titik start hingga finish di Gelora Bung Karno.

Pelari kategori maraton dibagi tiga gelombang. Gelombang elite dan A lepas start pukul 04.00, gelombang B menyusul pukul 04.05, dan gelombang C pada 04.10. Rekayasa lalu lintas menjadi konsekuensi logis: belasan ruas jalan ditutup sementara, mulai dari Medan Merdeka Barat, Medan Merdeka Selatan, MH Thamrin, Imam Bonjol, HOS Cokroaminoto, HR Rasuna Said, Mampang Prapatan, Jenderal Sudirman, Senopati, Pattimura, Prapanca Raya, Sisingamangaraja, Gatot Subroto, hingga Gerbang Pemuda.

Tapi di balik kemeriahan atletik itu ada hitungan yang agaknya jauh lebih menarik bagi pengambil kebijakan. Event berskala ini menggerakkan ekosistem panjang: hotel, transportasi, F&B, merchandise, jasa event organizer. Kehadiran lebih dari seribu pelari asing berarti devisa yang masuk dari akomodasi dan konsumsi mereka selama beberapa hari di Jakarta. Bukan kalkulasi yang bisa diabaikan.

Pertanyaannya, siapa yang paling diuntungkan? Kalau data kehadiran peserta asing ini bisa dipercaya, efek lanjutannya ke sektor perhotelan dan kuliner Jakarta cukup untuk bikin pemerintah kota senyum-senyum sendiri.

BTN Jakarta International Marathon memang dirancang bukan sekadar untuk mengakomodasi mereka yang hobi lari. Pemprov Jakarta terang-terangan menjadikan event ini sebagai instrumen untuk membangun citra Jakarta sebagai kota global, sebuah ambisi yang kian relevan setelah ibu kota negara resmi berpindah ke Nusantara. Jakarta perlu narasi baru. Maraton internasional berstandar World Athletics bisa jadi salah satu pengisinya.

Apakah satu event olahraga cukup untuk menggerakkan perekonomian kota sebesar Jakarta? Mungkin tidak sendiri. Tapi kalau konsistensi penyelenggaraan terjaga dan label internasionalnya terus dipelihara, event seperti ini berpotensi menjadi anchor bagi kalender wisata dan MICE Jakarta yang lebih padat di tahun-tahun mendatang. Bak gayung bersambut antara ambisi kota dan kegemaran masyarakat yang sedang dihajar demam lari.