Sepanjang akhir Mei hingga pekan pertama Juni 2026, IHSG tertekan tanpa tanda-tanda pemulihan berarti. Lalu datanglah sebuah pertemuan tertutup di Kompleks Parlemen Senayan, Selasa pagi, 9 Juni 2026, dan arah sentimen pasar berubah. Bukan karena Bursa Efek Indonesia atau OJK yang bergerak, melainkan karena Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad yang memanggil para pimpinan lembaga keuangan negara dan meminta bank-bank BUMN membeli kembali saham mereka sendiri.
Gerak cepat itu ada hasilnya. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mengumumkan rencana buyback dengan nilai maksimal Rp500 miliar, berlangsung 12 Juni hingga 11 September 2026. Corporate Secretary BRI Dhanny menyebut valuasi BBRI saat ini masih di bawah nilai wajarnya. "Kami menilai valuasi BBRI saat ini masih berada di bawah nilai wajarnya atau belum sepenuhnya merefleksikan kinerja dan potensi bisnis perseroan," kata Dhanny.
Danantara Indonesia pun angkat bicara. COO Danantara sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria menegaskan buyback bukan sesuatu yang luar biasa, tunggu, bukan begitu. Ia bilang ini lazim saja. "Buyback itu sebetulnya proses yang normal. Kalau kita melihat saham kita terlalu rendah, tentu pasti kita ambil. Sayang kan daripada investasi di tempat lain, lebih baik kita investasi dengan saham kita sendiri," jelas Dony, Minggu (14/6/2026). Ia optimistis kepercayaan investor akan makin solid seiring kuatnya fundamental ekonomi nasional dan transformasi perusahaan-perusahaan BUMN.
Dari sisi teknis, narasi itu ada benarnya. Equity Analyst Indo Premier Sekuritas David Kurniawan menilai aksi buyback BUMN secara historis efektif menjadi jangkar likuiditas sekaligus bantalan indeks saat pasar tertekan. "Wacana buyback saham BUMN ini mengirimkan sinyal kuat bahwa otoritas berkomitmen dalam menjaga stabilitas bursa di tengah tekanan pasar," ujar David. BPJS Ketenagakerjaan pun dilaporkan merespons positif, membuka ruang bagi lebih banyak amunisi institusional masuk ke saham-saham Himbara.
Tapi di balik reli jangka pendek itu, ada pertanyaan yang agaknya belum terjawab dengan nyaman: seberapa sehat penguatan indeks yang disulut tekanan politik, bukan kinerja organik emiten?
Kritik terhadap manuver Dasco bukan tanpa dasar. Seorang Wakil Ketua DPR yang memanggil direksi BUMN dan meminta mereka membeli saham sendiri, entah kebetulan atau tidak, sudah jauh melampaui koridor legislatif yang seharusnya jadi habitatnya. Intervensi dari Senayan ke ruang keputusan korporasi bisa dibaca dua arah oleh investor asing: ada "political will" menjaga pasar, tapi ada pula tanda tanya soal independensi manajemen BUMN. Dua hal yang tidak selalu bisa berjalan beriringan.
Penguatan IHSG pasca-pertemuan itu terasa seperti pil pereda nyeri. Bukan obat. Fundamental ekonomi yang Dony dan kawan-kawan gadang-gadang memang solid, kalau data itu bisa dipercaya sepenuhnya. Tapi kepercayaan investor jangka panjang dibangun dari konsistensi kebijakan dan kejelasan tata kelola, bukan dari rapat kilat di Senayan yang menghasilkan instruksi buyback. Pasar bisa naik hari ini. Soal besok, itu pertanyaan lain.