Ketika IHSG mulai menggeliat setelah berbulan-bulan dihajar tekanan global, satu nama terus disebut-sebut jadi penopangnya: buyback saham BUMN.
Chief Operating Officer Danantara Indonesia sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria tidak menampik bahwa aksi korporasi semacam ini ikut mewarnai pergerakan indeks. Tapi ia menolak jika dibingkai sebagai sesuatu yang istimewa. "Buyback itu sebetulnya proses yang normal. Kalau kita melihat saham kita terlalu rendah, tentu pasti kita ambil. Sayang kan daripada investasi di tempat lain, mending kita investasi dengan saham kita sendiri," kata Dony saat ditemui di Jakarta, Minggu (14/6/2026). Logikanya sederhana dan sulit dibantah: buat apa parkir dana di instrumen lain kalau saham sendiri sedang dijual murah?
Secara teori, buyback memang salah satu sinyal paling eksplisit bahwa manajemen merasa harga pasar belum mencerminkan nilai intrinsik perusahaan. Analis pasar modal sudah hafal pola ini. Efektif jadi jangkar likuiditas saat bursa tertekan, itu bukan klaim baru.
David Kurniawan, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, menyebut langkah ini sebagai respons strategis untuk menjaga stabilitas pasar. "Wacana buyback saham BUMN ini mengirimkan sinyal kuat bahwa otoritas berkomitmen dalam menjaga stabilitas bursa," ujarnya. Secara historis, kata David, aksi serupa terbukti jadi bantalan bagi indeks saat tekanan jual meningkat.
Yang paling konkret saat ini: PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). Dana buyback yang disiapkan maksimal Rp500 miliar, berlaku mulai 12 Juni hingga 11 September 2026. Corporate Secretary BRI Dhanny menyatakan valuasi BBRI saat ini masih berada di bawah nilai wajarnya, belum sepenuhnya merefleksikan kinerja dan potensi bisnis jangka panjang perseroan. Klaim yang tentu perlu dibuktikan waktu, tapi pasar agaknya merespons positif.
Dony tidak membatasi narasi ini pada BBRI saja. Sektor perbankan, pertambangan, hingga infrastruktur ia sebut sebagai segmen dengan fundamental BUMN yang masih solid. "Fundamental dari perbankan kita, tambang, infrastruktur, dan perusahaan-perusahaan BUMN ini semuanya bagus. Sayang kan kalau barang bagus masa nggak diambil," katanya, dengan nada yang terasa lebih seperti pedagang pasar dibanding pejabat korporasi. Tapi poinnya jelas.
Bagi investor ritel, ada dua cara baca dari situasi ini. Pertama, buyback bisa dibaca sebagai konfirmasi dari "orang dalam" bahwa saham-saham BUMN memang sedang undervalued, momentum masuk yang lumayan. Kedua, dan ini yang patut dicermati, skala Rp500 miliar untuk emiten sekelas BRI tidak akan banyak menggerakkan harga secara struktural. Lebih ke sinyal psikologis. Bukan intervensi fundamental.
Pertanyaannya, apakah penguatan IHSG belakangan ini mencerminkan perbaikan fundamental, atau sekadar efek jangka pendek dari likuiditas yang disuntikkan lewat buyback? Jawaban Dony sudah bisa ditebak. Jawaban pasar, masih perlu beberapa kuartal lagi.