Senin pagi kemarin, ribuan siswa di beberapa daerah membuka kotak makan siang yang tidak pernah datang. Di Solo, 20 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kompak menutup dapur sementara. Di Brebes, 31 SPPG mengikuti jejak yang sama. Di Kalimantan Barat, sejumlah titik layanan tersendat karena anggaran dari pusat belum masuk rekening.
Akar masalahnya sederhana tapi merepotkan: mekanisme virtual account. Dana dari Badan Gizi Nasional (BGN) tidak bisa langsung ditransfer begitu saja, melainkan harus melewati proses verifikasi dan antrean persetujuan yang panjang. Wakil Ketua Satgas MBG Pemkot Solo, Purwanti, menjelaskan bahwa ini bukan soal anggaran yang tidak ada, melainkan antrean approve yang macet. "Bukan macet, tapi kan mekanisme keuangan, pengajuan virtual account itu kan antre approve-nya," katanya. Ia menduga pergantian pejabat turut memperlambat proses verifikasi, meski tidak bisa memastikan.
Di Kalimantan Barat, masalahnya bahkan lebih struktural. Kepala Regional BGN Kalbar, Agus Kurniawi, menyebut dari 510 SPPG yang sudah kantongi surat keputusan operasional, tidak semuanya bisa jalan penuh. Sebagian masih menunggu pembuatan virtual account dan instruksi operasional dari pusat. "Yang sudah mendapatkan SK operasional dan telah beroperasi ada 510 SPPG aglomerasi. Namun belum semuanya bisa operasional, terutama yang baru karena masih menunggu pembuatan virtual account dan instruksi operasional dari BGN," kata Agus. Angka 510 terdengar besar. Yang bisa jalan normal agaknya jauh lebih kecil.
BGN tidak diam. Kepala BGN Nanik S. Deyang, usai pelantikan di Istana Merdeka Senin siang, merespons dengan dua pesan sekaligus: pertama, dana sudah dicairkan sejak Jumat; kedua, sebagian laporan yang beredar adalah hoaks. "Ada sebagian hoaks, semua sudah dicairkan dari mulai Jumat," tegas Nanik. Ia juga mengklaim pihaknya sudah menggelontorkan Rp 5 triliun untuk operasional SPPG di seluruh Indonesia. Masalah ini, kata dia, "hanya teknis."
Klaim yang masih perlu dibuktikan di lapangan, setidaknya itu yang terjadi di Solo, kalau data dari sana bisa dijadikan tolok ukur. Pencairan Senin siang dilakukan bertahap dan belum tuntas saat berita ini beredar. Koordinator SPPG Solo, Priyo Widyastoko, membenarkan bahwa dana rata-rata sudah mulai cair per Senin, tapi prosesnya bertahap. Mekanisme normalnya, pencairan dari BGN dilakukan setiap Kamis atau Jumat untuk operasional minggu berikutnya, dengan nilai Rp 8.000 per porsi kecil dan Rp 10.000 per porsi besar.
Yang paling terdampak bukan sistem atau administrasinya. Fika Mulyaningrum, siswi SMP Negeri 1 Brebes, cukup menggambarkan situasinya dalam satu kalimat: "Hari ini tidak dapat." Ribuan siswa lain di Brebes bernasib serupa, melewati satu hari tanpa paket makan yang selama ini mereka tunggu.
Program MBG sudah menjangkau ratusan titik layanan di seluruh negeri. Tapi insiden serempak ini memperlihatkan satu titik lemah yang belum tuntas diselesaikan: infrastruktur keuangan di lapis bawah belum sekuat ambisi program di lapis atas. Bukan soal uangnya tidak ada. Rp 5 triliun bukan angka kecil, tapi uang sebesar itu bisa tersandera antrean virtual account selama berhari-hari. Pertanyaannya, berapa kali lagi skenario ini harus terulang sebelum mekanismenya benar-benar diperbaiki?