RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Dolar Stabil, Minyak Ambruk: Pasar Sambut Sinyal D...

Finansial

Dolar Stabil, Minyak Ambruk: Pasar Sambut Sinyal Damai AS-Iran

Pergerakan dolar AS cenderung tertahan setelah Trump batalkan rencana serangan ke Iran dan buka peluang kesepakatan damai akhir pekan ini. Harga minyak Brent langsung terpukul 1,6%.

Dolar Tertahan Jumat (12/6), Pasar Sambut Positif Peluang Damai AS-Iran

Sepanjang perdagangan Jumat (12/6/2026), satu variabel menggantung di atas seluruh pasar keuangan global: apakah AS dan Iran benar-benar akan berdamai akhir pekan ini.

Dolar AS berakhir relatif stabil setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah dalam sepekan. Indeks dolar (DXY) tertekan setelah Presiden Donald Trump secara terbuka membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran dan menyebut kesepakatan damai bisa terwujud secepatnya sebelum pekan ini usai. Analis Westpac yang mencatat momen itu menyebut pasar langsung berbalik arah pada akhir sesi New York. Cepat, dan tidak butuh konfirmasi kedua.

Terhadap yen Jepang, greenback menguat tipis 0,1% ke 160,07 yen. Euro bertahan di kisaran US$ 1,1576, mendekati puncak sepekan, setelah ECB menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam hampir tiga tahun. Poundsterling nyaris tak bergerak di US$ 1,3414. Dolar Australia dan dolar Selandia Baru masing-masing tergelincir 0,1% ke US$ 0,7045 dan US$ 0,5830.

Yang paling dihajar justru pasar komoditas. Minyak Brent amblas 1,6% ke US$ 88,94 per barel di sesi Asia, tekanan langsung dari pernyataan Trump soal kemungkinan dibukanya kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Satu selat. Tapi sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati rute itu, dan pasar tahu persis apa artinya kalau jalur itu kembali normal.

Teheran belum bersuara. Iran menegaskan belum ada keputusan final, sinyal bahwa negosiasi agaknya masih berjalan di atas garis tipis.

Dari data, PPI AS untuk Mei 2026 naik lebih tinggi dari perkiraan dan mencatat lonjakan tahunan terbesar dalam tiga setengah tahun terakhir, utamanya dipicu harga energi yang meledak akibat konflik Timur Tengah. Angka yang sekilas mengkhawatirkan, kalau data ini bisa dipercaya begitu saja. Tapi pasar memilih baca lebih dalam: inflasi inti produsen (core PPI), indikator yang lebih diperhatikan The Fed, hanya tumbuh 4,9% secara tahunan, jauh di bawah konsensus 5,4%. Analis IG Markets Tony Sycamore menyoroti kombinasi melandainya harga energi dan data inflasi inti yang lebih jinak itu sebagai faktor yang berhasil meredam kepanikan.

Efek dominonya langsung ke ekspektasi kebijakan moneter. Kontrak berjangka Fed Funds kini memperlihatkan probabilitas sekitar 63,3% bahwa The Fed akan mengerek suku bunga 25 basis poin pada pertemuan Oktober 2026, turun dari ekspektasi yang sempat menggelembung sehari sebelumnya. Pelaku pasar rupanya mulai berhitung ulang.

Di Eropa, ceritanya agak berbeda. ECB dinilai melempar sinyal hawkish lewat revisi proyeksi inflasi dan pertumbuhan, dan pasar kini memperkirakan kenaikan berikutnya pada September. Analis Barclays mencatat nada bank sentral itu cukup tegas, meski soal timing dan besaran belum ada kepastian.

Kripto ikut berkedip. Bitcoin melesat tipis 0,2% ke US$ 63.460, Ether menguat 0,1% ke US$ 1.672. Bisa jadi sekadar riak risk-on sesaat, atau memang ada arus masuk yang diam-diam sedang mengalir.

Pertanyaannya sederhana: bagaimana kalau kesepakatan itu gagal? Harga minyak bisa berbalik, DXY rebound, dan volatilitas yang sempat mereda bisa dengan cepat kembali menyalak. Semua pergerakan hari ini, pada akhirnya, masih tersandera satu variabel yang belum pasti.