RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Dua Kota, Satu Pesan: Muhammadiyah Desak Warganya...

Ekonomi

Dua Kota, Satu Pesan: Muhammadiyah Desak Warganya Berhenti Menunggu Lowongan

Dari wisuda di Bekasi hingga forum di Jakarta Selatan, Muhammadiyah secara serentak mendorong warga dan lulusannya untuk tidak lagi bergantung pada lapangan kerja konvensional, melainkan membangun kemandirian ekonomi lewat inovasi digital dan penguatan komunitas.

🎓✨ Selamat kepada seluruh Wisudawan Wisuda Periode II!, Perjalanan panjang penuh tugas, revisi, penelitian, dan perjuangan akhirnya terbayar tuntas hari ini. 🔥, Semoga ilmu yang telah ditempa menjad

Rekrutmen tenaga kerja yang kian lesu, rupiah yang terus amblas, dan kecerdasan buatan yang mulai menggeser posisi pegawai konvensional. Tiga tekanan itu menjadi latar dua agenda Muhammadiyah di akhir pekan lalu, yang meski berlangsung di kota berbeda, bermuara pada satu pesan yang sama: sudah waktunya berhenti mengantre pintu perusahaan.

Sabtu (13/6), Bambang Setiadji naik podium di acara wisuda Universitas Muhammadiyah Indonesia, Bekasi. Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah itu tidak banyak basa-basi. Ekonomi Indonesia, katanya terang-terangan, sedang tidak baik-baik saja. Nilai tukar rupiah terhadap dolar terus melemah, dan pengusaha industri sudah mulai mengerem rekrutmen. Kalau begitu kondisinya, lulusan perguruan tinggi yang terus mengantre pintu perusahaan agaknya sedang bermain di papan yang salah.

Bambang mendorong lulusan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (PTMA) untuk membuka usaha sendiri. Tidak harus konvensional, bisa hybrid antara offline dan digital. "Buatlah usahamu sendiri, sesuai impianmu sendiri. Wujudkanlah ekonomi kemandirian," tegasnya, merujuk pada apa yang ia sebut sebagai era gauge economy, di mana platform digital telah melipat jarak dan memperlebar peluang bagi siapa saja yang mau bergerak.

Hadir di wisuda yang sama, Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor menambah konteks yang tidak kalah tajam. Kecerdasan buatan bukan lagi wacana. Dunia industri, kata Afriansyah, tidak lagi terpikat selembar ijazah. "Dunia industri tidak lagi hanya mencari individu yang memegang selembar ijazah, melainkan mencari sarjana yang cakap, mereka yang memiliki kompetensi nyata, adaptif, dan siap langsung berkontribusi," ungkapnya.

Sehari sebelumnya, nada serupa bergema di Masjid At Taqwa, Komplek Perguruan Muhammadiyah Limau, Jakarta Selatan. PCM Kebayoran Baru menggelar Malam Bina Iman Taqwa (MABIT) pada Jumat (12/6) untuk membekali para guru dan tenaga kependidikan di lingkungan amal usaha Muhammadiyah dengan strategi ketahanan ekonomi keluarga, yang memang sedang tergerus oleh penyesuaian harga BBM.

Faozan Amar tampil sebagai narasumber utama. Wakil Ketua Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial PP Muhammadiyah sekaligus dosen FEB UHAMKA itu memaparkan empat strategi di hadapan ratusan peserta. Pertama, memanfaatkan AI dan keterampilan digital sebagai sumber pendapatan tambahan, dari bimbel daring, konten edukasi, hingga pemasaran produk UMKM. Kedua, memperkuat dimensi spiritual karena ketakwaan dan sedekah bukan sekadar ritual, melainkan juga disebut Faozan sebagai pembuka jalan rezeki yang tidak terduga. Ketiga, disiplin manajemen keuangan keluarga dengan formula yang ia tawarkan: 60 persen pendapatan untuk kebutuhan pokok, sisanya dibagi rata antara dana darurat, tabungan, pendidikan anak, dan kegiatan sosial. Faozan juga menyoroti bahaya paylater dan utang konsumtif yang kini menjadi jebakan bagi banyak keluarga kelas menengah. Keempat, membangun ekosistem ekonomi jamaah yang saling menguatkan lewat direktori usaha warga, bazar rutin, dan koperasi syariah PCM.

"Gaji saja tidak cukup jika kita tidak kreatif," kata Faozan. Kalimat itu, entah kebetulan atau tidak, merangkum persis semangat yang dibawa Bambang Setiadji sehari sesudahnya di Bekasi.

Dua kota, dua acara, satu benang merah. Muhammadiyah, dengan jaringan pendidikan dan amal usaha yang masif, sedang serius mengonversi kekhawatiran soal ekonomi menjadi agenda nyata. Pertanyaannya tinggal satu: dari ratusan ribu guru dan tenaga kependidikan di seluruh amal usaha Muhammadiyah, berapa persen yang benar-benar akan bergerak?