Cadangan beras pemerintah diklaim cukup untuk menopang kebutuhan nasional sepanjang 2026, bahkan tanpa impor sekalipun. Klaim ini muncul ketika Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan bahwa El Niño yang kini melanda tidak akan pergi dalam waktu dekat, dengan prediksi fenomena pemanasan Samudra Pasifik tropis ini bertahan setidaknya hingga Februari 2027.
Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang melimpah jadi modal utama menghadapi tekanan produksi. Argumentasinya masuk akal di atas kertas: kalau gudang penuh, buat apa buru-buru impor? Tapi soal harga adalah cerita lain. Tren harga beras sudah mulai merayap naik, dan itulah yang lebih perlu diawasi ketimbang sekadar angka stok di gudang Bulog.
El Niño 2026 sejatinya bukan tamu tak diundang. Fenomena ini datang berulang, polanya bisa diprediksi, siklus kemaraunya sudah terbaca jauh-jauh hari. Meski belum mencapai puncaknya, kekeringan sudah menyapu penjuru tanah air. Pertanyaannya, agaknya sulit dijawab: kenapa kebijakan pertanian kita masih terkesan gagap setiap kali El Niño datang, padahal frekuensinya sudah cukup untuk membuat kita hafal skenarionya?
Kalau El Niño berkepanjangan seperti prediksi WMO, dampaknya tidak berhenti di ladang. Gangguan produksi di hulu akan merambat ke rantai distribusi, menggerus daya beli masyarakat, terutama kelompok rentan yang porsi pengeluaran pangannya sudah besar sejak sebelum kekeringan ini datang. Rantai ini yang jarang mendapat perhatian cukup dalam debat ketahanan pangan. Hampir tidak pernah, malah.
BMKG menegaskan bahwa September 2026 masih menjadi fase kritis untuk kebakaran hutan dan lahan. Cuaca kering yang dominan, ditambah tekanan El Niño dan tingginya jumlah titik panas yang terpantau, mendorong BMKG memperkuat dukungan operasional pengendalian karhutla bersama seluruh pemangku kepentingan. Karhutla skala besar bisa memperparah kondisi pertanian yang sudah tertekan, sekaligus membebani anggaran penanggulangan bencana. Dua masalah sekaligus.
Ini bukan soal apakah beras hari ini tersedia di rak minimarket. Bagi investor dengan eksposur ke sektor konsumer dan pertanian, pertanyaan yang lebih relevan adalah seberapa tahan banting ketahanan pangan kita kalau El Niño ini benar-benar bertahan penuh hingga awal 2027. Tren harga beras yang mulai bergerak naik, kalau data ini bisa dipercaya, baru pembuka babak pertama.