RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  ETF Bitcoin Catat Inflow Dua Pekan Beruntun, Tanda...

Finansial

ETF Bitcoin Catat Inflow Dua Pekan Beruntun, Tanda Pemulihan atau Sekadar Rebound?

Dana masuk ke ETF Bitcoin spot AS mencapai US$75,7 juta sepanjang pekan 13-17 Juli 2026, menandai inflow positif kedua berturut-turut. Tapi di balik angka ini, konteksnya jauh lebih kompleks.

Bitcoin Kembali ke US$65.000 seiring Arus Masuk ETF BTC Meningkat: Apakah Masa Sulit Sudah Berlalu?

Dua bulan penuh tekanan jual, dan kini pelaku pasar mulai bertanya: apakah yang terburuk sudah lewat untuk Bitcoin?

Sepanjang pekan perdagangan 13-17 Juli 2026, ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat membukukan net inflow sebesar US$75,7 juta atau sekitar Rp1,35 triliun. Angka itu melanjutkan tren positif pekan sebelumnya yang membukukan arus masuk US$197,4 juta, menjadikannya dua pekan beruntun dengan arus dana positif setelah periode berdarah yang cukup panjang.

Tapi mari letakkan angka itu dalam perspektif yang jujur. Total dana yang kembali masuk sejauh ini, sekitar US$273,1 juta, hanya menutup 3,3% dari US$8,2 miliar yang hengkang selama delapan pekan sebelumnya. Lubangnya masih dalam. Juni saja tercatat sebagai bulan terburuk dalam sejarah ETF Bitcoin, dengan outflow US$4,5 miliar, melampaui rekor Februari 2025 sebesar US$3,56 miliar. Hampir 79% dari tekanan jual bulan itu datang dari BlackRock's iShares Bitcoin Trust (IBIT). Total aset yang dikelola kini bertengger di kisaran US$77 miliar, anjlok dari puncak US$104 miliar lebih di pertengahan Mei.

Volatilitas belum benar-benar pergi. Senin pekan lalu, dalam satu sesi, terjadi outflow US$424,7 juta, terbesar sejak 26 Juni, dipicu memanasnya kembali ketegangan militer antara AS dan Iran. Empat sesi berikutnya barulah pembeli kembali, dengan inflow kumulatif sekitar US$500,4 juta yang membalikkan tekanan awal pekan.

Harga Bitcoin sempat menyentuh US$65.000 di awal pekan, naik sekitar 5,2% selama sepekan. Secara bulanan, Bitcoin sudah menguat sekitar 13% setelah dua bulan berturut-turut ditutup di zona merah. Sejak awal Juni, pergerakan harganya relatif sideways dalam rentang US$60.000 hingga US$67.000, konsolidasi yang oleh sebagian analis dibaca sebagai proses pembentukan basis sebelum potensi breakout.

"Bitcoin secara senyap telah membangun basis yang bagus dengan diperdagangkan dalam rentang sideways sejak awal Juni," kata Matt Maley, kepala strategi pasar di Miller Tabak + Co. Jika Clarity Act berhasil melewati proses legislasi, tambah Maley, undang-undang itu bisa menjadi katalis yang mendorong breakout dari rentang tersebut.

Stephane Ouellette dari FRNT Financial menunjuk faktor lain: meredanya euforia perdagangan berbasis kecerdasan buatan dan sorotan terhadap debut publik SpaceX yang sempat menyedot perhatian investor. Begitu dua magnet itu melemah, ruang bagi Bitcoin untuk bergerak terbuka lebih lebar. "Dengan Bitcoin di ujung atas rentang tersebut, kami melihat jalur resistensi terendah mengarah ke atas," sebut Ouellette.

Dari sudut institusional, CEO Indodax William Sutanto membaca arus masuk ETF sebagai sinyal awal meningkatnya minat investor besar, meski belum bisa diartikan sebagai perubahan tren. "Arus dana ETF bukan hanya mencerminkan minat terhadap Bitcoin, tetapi juga menggambarkan bagaimana investor institusi mulai kembali meningkatkan eksposurnya terhadap aset berisiko setelah melalui periode ketidakpastian yang cukup panjang," jelasnya dalam keterangan tertulis, Rabu (22/7/2026).

Perdebatan soal arah selanjutnya terbilang sengit. Eric Balchunas dari Bloomberg Intelligence menarik perbandingan dengan ETF emas GLD, yang pernah ambruk dari US$76 miliar ke US$22 miliar sebelum akhirnya bangkit ke hampir US$190 miliar. Polanya klasik: kenaikan spektakuler, koreksi brutal, lalu pemulihan panjang yang menguji kesabaran. IBIT agaknya mengikuti lintasan serupa, dengan Bitcoin sudah turun sekitar 48% dari puncak US$126.080. Citigroup justru memangkas target harga Bitcoin 12 bulan menjadi US$82.000 dari sebelumnya US$112.000, dan memperkirakan inflow ETF akan seret sepanjang tahun akibat hambatan regulasi dan lemahnya permintaan institusional. CEO BlackRock Larry Fink tidak sepakat. Ia menyatakan fase "washout" sudah berakhir seiring arus dana yang kembali positif.

Siapa yang benar? Bisa jadi keduanya, hanya beda soal timing. Pasar bearish kripto secara historis tidak berakhir dengan satu momen dramatis, melainkan lewat periode stabilisasi panjang yang membosankan. Dua pekan inflow itu menarik. Tapi belum cukup untuk mengubah narasi delapan pekan sebelumnya.