Semester I-2026 berjalan lebih baik dari perkiraan banyak pihak. Pendapatan negara mencapai Rp1.459,4 triliun, tumbuh 21,4% secara tahunan, sementara penerimaan pajak tembus Rp1.035,7 triliun dengan pertumbuhan 24,6%. Defisit tercatat Rp196,5 triliun, atau 0,76% terhadap PDB. Angka-angka itu terlihat solid.
Tapi perjalanan ke akhir tahun agaknya tidak semulus pembukaan.
Realisasi penerimaan pajak hingga Agustus baru menyentuh sekitar 59,8% dari target Rp2.357 triliun. Shortfall sudah nyata sebelum kuartal terakhir dimulai. Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman, memproyeksikan defisit akhir tahun di kisaran 2,8% hingga 2,95% terhadap PDB, margin yang sangat tipis dari batas psikologis 3%.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah akan mengevaluasi postur fiskal setiap bulan. Jika tekanan terhadap defisit meningkat menjelang akhir tahun, pemangkasan belanja tidak produktif tidak akan dihindari. Pernyataan yang terdengar tegas, meski eksekusinya soal lain.
Rizal mengingatkan agar pisau efisiensi diarahkan ke tempat yang tepat. Yang harus dipangkas adalah "lemak" anggaran: rapat, perjalanan dinas, belanja seremonial, pengadaan non-prioritas, dan tambahan anggaran kementerian/lembaga yang output-nya lemah, bukan belanja produktif yang menjaga daya beli dan investasi. Logika yang mudah diucapkan, tetapi secara politik sering kali sulit dieksekusi.
"Ukuran keberhasilan fiskal bukan sekadar tidak menembus 3%, melainkan apakah defisit tersebut lahir dari belanja produktif atau justru dari penerimaan yang melemah dan belanja rutin yang tidak terkendali," kata Rizal.
Persoalannya tidak berhenti di situ. Ada lapisan risiko lain yang jarang masuk ke headline berita: kuasi-fiskal.
Fitch Ratings, dalam rilisnya merespons RAPBN 2027, menyoroti bahwa kendati pemerintah menargetkan defisit turun ke 2,4% dari PDB, ada risiko kebutuhan pembiayaan semakin dipenuhi lewat saluran kuasi-fiskal. Berpotensi melemahkan transparansi. Berpotensi merusak disiplin pengelolaan fiskal jangka panjang. Sorotan serupa sudah lebih dulu dilontarkan IMF di awal 2026.
Dalam definisi IMF, kuasi-fiskal adalah kegiatan yang bersifat fiskal tetapi dilakukan oleh lembaga publik non-pemerintah: bank sentral, BUMN, bank-bank pemerintah, hingga badan investasi bentukan pemerintah seperti Danantara. Mekanismenya beragam, mulai dari subsidi bunga terselubung, penanggung risiko kredit untuk proyek yang tidak layak secara komersial, sampai penyaluran dana melalui bank Himbara yang dicatat sebagai "investasi" bukan belanja.
Karena diposisikan sebagai investasi, transaksi itu masuk sebagai pembiayaan, bukan belanja. Angka defisit resmi pun terlihat lebih kecil dari yang sesungguhnya. IMF memperkirakan pembiayaan investasi below-the-line di anggaran 2026 saja sudah sekitar 0,8% dari PDB, mencakup program ketahanan pangan, perumahan rakyat, dan koperasi desa. Tambahkan angka itu ke defisit headline, gambaran fiskal Indonesia berubah cukup drastis.
Bukan main.
Esensi masalahnya bukan soal siapa yang membayar, melainkan siapa yang akhirnya menanggung risikonya. Jika badan bentukan pemerintah berinvestasi secara komersial dan untung, tidak ada masalah. Tapi jika investasinya rendah kadar komersialnya dan bergantung pada dukungan negara, muncul kewajiban kontingensi yang tidak terlihat di angka defisit resmi. Risiko yang nyata, hanya tidak tercatat.
Dari sisi restitusi, ada paradoks yang patut dicermati. Setiap rupiah yang dikembalikan ke wajib pajak bukan sekadar pengurang penerimaan neto. Likuiditas itu kembali berputar: modal kerja, pembelian bahan baku, pembayaran pemasok, lalu melahirkan PPN, PPh badan, dan penerimaan baru berikutnya. Menunda restitusi demi menjaga kas jangka pendek bisa kontraproduktif jika ujungnya justru menggerus basis pajak masa depan. Setidaknya itu yang disimpulkan dari logika fiskal intertemporal.
Restitusi, kuasi-fiskal, efisiensi anggaran, semuanya bergerak bersamaan dalam satu tahun fiskal yang sama. Defisit 2,95% mungkin masih di bawah batas legal. Tapi tambahkan beban kuasi-fiskal yang belum terhitung, dan angka sesungguhnya bisa bercerita jauh lebih keras dari yang terlihat di permukaan.