Rabu pagi kemarin, BEI seolah memberi dan mengambil dalam satu napas.
PT Hotel Fitra International Tbk (FITT) boleh kembali diperdagangkan di Pasar Reguler dan Pasar Tunai mulai sesi I, setelah sehari penuh dikunci pada Selasa (31/3/2026). Di saat bersamaan, Bursa justru memasang gembok pada PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) dengan alasan yang berlawanan: harga naik terlalu cepat.
Dua emiten, dua arah. Satu disuspensi karena anjlok, satunya karena melonjak.
FITT sebelumnya kena auto rejection bawah setelah terkoreksi 14,38 persen ke level Rp262 pada sesi terakhir Maret. Bukan sekadar koreksi harian biasa. Dalam sebulan, saham ini sudah tergerus 66,84 persen, dan secara year to date masih minus 54,59 persen. Bagi yang nyangkut sejak awal tahun, angka itu pahit.
ASPR? Ceritanya beda total. Saham ini datang dari libur panjang Lebaran dengan amunisi penuh. Lima hari berturut-turut menguat, lalu ditutup di Rp230 pada Selasa kemarin, melesat 12,75 persen hanya dalam sehari. Akumulasi penguatan sepekan sudah menyentuh 59,72 persen. Pasar agaknya terlalu semangat, sampai Bursa merasa perlu mendinginkan suasana.
Suspensi pada ASPR bukan hukuman. Ini prosedur standar BEI untuk emiten yang harganya bergerak di luar kewajaran dalam waktu singkat. Tapi bagi investor yang sedang riding momentum, pengumuman ini tentu bikin gerah.
Setelah suspensi dibuka, ke mana arah FITT berikutnya? Saham yang sudah kehilangan lebih dari separuh nilainya sejak Januari ini butuh katalis fundamental yang nyata. Technical rebound saja tidak cukup.