RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Gelombang Seleksi Alam di Pasar Kripto: Ribuan Tok...

Finansial

Gelombang Seleksi Alam di Pasar Kripto: Ribuan Token Menuju Kepunahan

Lebih dari 90% token kripto kehilangan nilai drastis, sementara pendiri Cardano memperingatkan gelombang kegagalan masih akan terus berlanjut. Pasar bergerak menuju fase paling selektif dalam sejarahnya.

Gelombang Kegagalan Mengintai Ketika Euforia Kripto Mulai Memudar

Bitcoin sempat ambruk di bawah US$ 60.000, tapi bagi sebagian pelaku pasar, itu bukan bagian paling mengkhawatirkan dari situasi kripto saat ini.

Yang lebih membuat bergidik adalah angka dari Delphi Digital: dari puluhan juta token yang pernah diciptakan dalam beberapa tahun terakhir, kurang dari 1.700 yang masih punya aktivitas perdagangan harian berarti di bursa terdesentralisasi. Sisanya? Perlahan tapi pasti, menghilang dari radar. Sebagian besar token yang didukung modal ventura kini diperdagangkan di bawah harga peluncurannya, rata-rata sudah tergerus sekitar 80%. Banyak yang kehilangan lebih dari 90% nilainya. Angka yang tidak main-main.

Charles Hoskinson, pendiri Cardano, tidak basa-basi. Dalam sebuah video yang diunggah setelah platform analitik kripto ternama mengumumkan penutupan operasinya, ia memperingatkan bahwa industri sedang menuju fase penyaringan besar-besaran. Lebih banyak proyek akan tutup, kas perusahaan kripto makin tipis, para pengembang mulai memilih keluar dari ekosistem yang mereka bangun sendiri. "Saya menduga akan ada gelombang kegagalan. Tahun ini akan sangat berat," ujarnya.

Ironis, mengingat jaringan Cardano sendiri tidak luput dari tekanan yang sama. Data Electric Capital mencatat jumlah pengembang aktif penuh waktu di ekosistem tersebut anjlok 32% sejak awal tahun. Dana yang terkunci di protokol DeFi Cardano menyusut 35%. Token ADA sudah tergerus sekitar 55% sepanjang tahun ini. Bak cermin retak dari dalam.

Sepanjang bulan ini, Bitcoin sendiri telah turun sekitar 17% dan menyentuh level terendah dalam dua tahun terakhir. Tekanannya datang dari banyak arah: aksi jual sebagian kepemilikan Bitcoin oleh Strategy Inc., arus keluar dari ETF Bitcoin, hingga kekhawatiran bahwa Federal Reserve masih berpotensi menaikkan suku bunga. Data CoinGlass mencatat likuidasi aset digital dalam satu hari menembus US$ 1,7 miliar, cukup untuk membuat nyangkut banyak trader yang terlalu agresif pakai utang.

Ada yang berpendapat Bitcoin sebenarnya sudah kehilangan daya magisnya jauh sebelum koreksi ini. Michael Antonelli dari Robert W. Baird & Co. menyebut Bitcoin kini sekadar salah satu pilihan investasi biasa, bukan lagi fenomena baru yang bisa menyedot modal secara otomatis. Kalau Bitcoin saja sudah begitu, bagaimana nasib altcoin?

Cosmo Jiang, manajer portofolio Pantera Capital, menilai proses seleksi ini sebenarnya sudah berjalan sejak beberapa tahun lalu. Puncak kejayaan sebagian besar token terjadi pada 2021, setelah itu banyak yang perlahan kehilangan relevansi. "Kita sudah melihat proses penyaringan besar-besaran. Banyak token sudah turun 80% hingga 90%. Tetapi masih ada sejumlah token bernilai miliaran dolar yang sebenarnya tidak memiliki alasan kuat untuk tetap ada," ujarnya, kalimat yang agaknya akan membuat tidak nyaman lebih dari satu tim pengembang kripto.

Yang membuat situasi ini terasa paradoks: kemunduran pasar token justru terjadi ketika adopsi teknologi blockchain makin luas. Stablecoin mulai masuk ke sistem pembayaran global. Tether mendekati posisi Ether sebagai aset kripto terbesar kedua berdasarkan kapitalisasi pasar. Institusi keuangan Wall Street bereksperimen dengan tokenisasi aset, bank-bank besar membangun infrastruktur blockchain. Teknologinya berkembang, tapi token-tokennya rontok.

Pasar, kalau data ini bisa dipercaya, sedang memisahkan mana teknologi yang berguna dan mana token yang sekadar numpang tren. Ketika likuiditas melimpah dan suku bunga rendah, hampir semua proyek berlabel blockchain bisa dapat aliran modal. Bak air bah yang mengangkat semua perahu, bagus maupun bocor. Sekarang airnya surut, dan ketahuan mana yang memang bisa berlayar.

Bagi investor ritel yang masih pegang banyak altcoin dengan kerugian di atas 80%, ini bukan kabar yang enak didengar. Tapi bagi industri, proses penyaringan ini bisa jadi justru sehat, asal yang tersisa memang proyek yang benar-benar dibutuhkan.