RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Goldman Sachs: Harga Minyak Dipatok US$90, Manufak...

Ekonomi

Goldman Sachs: Harga Minyak Dipatok US$90, Manufaktur RI Kena Dua Pukulan Sekaligus

Proyeksi Goldman Sachs soal harga minyak yang bisa menyentuh US$90 per barel pada akhir 2026 datang di waktu yang paling tidak menguntungkan bagi industri manufaktur Indonesia yang sudah kepayahan menanggung beban perang dagang Trump.

Dua tekanan besar menghantam perekonomian global sekaligus di kuartal II-2026 ini. Keduanya mengarah ke satu titik yang sama: manufaktur Indonesia.

Goldman Sachs pada Senin (27/4) menaikkan proyeksi harga minyak mentah Brent hingga rata-rata US$90 per barel untuk kuartal IV-2026. Angka itu naik tajam dari estimasi sebelumnya di US$80 per barel, hampir US$30 lebih tinggi dibanding level sebelum apa yang kini disebut para analis Wall Street sebagai "Hormuz Shock".

Pemicunya adalah penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan sejak konflik pecah akhir Februari lalu. Goldman mencatat kerugian produksi minyak di kawasan Teluk Persia mencapai 14,5 juta barel per hari. Stok minyak global menyusut dengan kecepatan 11 hingga 12 juta barel per hari sepanjang April. Rekor. Analis Daan Struyven dan Yulia Zhestkova Grigsby menyebut kondisi ini sebagai penipisan "ekstrem", dengan lalu lintas pengiriman di Selat Hormuz yang nyaris mencapai titik nol akibat blokade ganda.

Harga Brent sudah meroket hampir 50% sejak konflik dimulai.

Bagi Indonesia, ini bukan sekadar soal tagihan energi yang membengkak. Industri manufaktur sudah lebih dulu megap-megap menanggung komplikasi perang tarif pemerintahan Trump. Kebijakan proteksionis Washington mengganggu rantai pasok global dan memukul permintaan ekspor, dua hal yang selama ini menjadi tulang punggung sektor pabrikasi nasional.

Gabungan keduanya menciptakan skenario yang agaknya lebih berat dari yang diantisipasi banyak pelaku industri di awal tahun. Biaya produksi naik, pasar ekspor menyempit, margin yang sudah tipis makin tergerus.

Laporan Goldman juga mengingatkan bahwa risikonya melampaui sekadar harga minyak mentah. "Risiko ekonomi saat ini jauh lebih besar daripada sekadar harga minyak mentah, karena adanya risiko kenaikan harga produk olahan, kelangkaan produk, serta skala guncangan yang belum pernah terjadi sebelumnya," tulis para analis tersebut.

Sepanjang kuartal II ini, tekanan inflasi global berpotensi kembali merangkak naik, persis ketika bank-bank sentral di banyak negara mulai mempertimbangkan pelonggaran suku bunga. Pertanyaannya, berapa lama skenario rate cut yang sudah dibanderol pasar itu masih relevan?

Bagi emiten manufaktur dan energi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, ini variabel baru yang tidak bisa diabaikan saat menyusun asumsi kinerja hingga akhir tahun. Kalau data ini bisa dipercaya, tekanan belum sampai di puncaknya.