US$ 133,8 per ton. Segitu harga batu bara ditutup kemarin, melemah 0,22% setelah sebelumnya terbang tidak tanggung-tanggung: lima hari beruntun, total kenaikan 11,4%. Bukan koreksi panik. Lebih terasa seperti pasar mengambil napas.
Yang bikin kepala sedikit miring, koreksinya terjadi saat suasana makro sebetulnya sedang kondusif. Minyak mentah WTI melonjak lebih dari 3% ke US$ 99,93 per barel, Brent ikut naik 2,8% ke US$ 111,26. Biasanya kalau minyak gerak sekencang itu, batu bara ikut terseret. Kali ini tidak, eh, koreksi: kali ini batu bara justru memilih diam.
Dari Asia, kabar yang masuk justru positif. India sedang dihajar gelombang panas ekstrem dan permintaan listriknya mencetak rekor dua hari berturut-turut: 252 GW pada 24 April, lalu tembus 256,1 GW sehari sesudahnya. Angka yang besar, bahkan untuk standar India. NTPC, produsen listrik termal terbesar di negara itu, memborong gas di Indian Gas Exchange sambil menggenjot produksi listrik dari batu bara ke sekitar 187 GW. India bahkan menunda pemeliharaan hampir 10.000 MW kapasitas pembangkit batu bara hingga Juli, sinyal bahwa mereka tidak mau ambil risiko kekurangan pasokan saat puncak musim panas.
Proyeksinya pun tidak kecil. India memperkirakan permintaan puncak bisa menyentuh 270 GW tahun ini.
Thailand juga agresif. Sepanjang kuartal pertama 2026, negara itu mengimpor 5,5 juta ton batu bara termal, naik 20% dari periode sama tahun lalu. Impor Maret tercatat 1,8 juta ton, jauh di atas proyeksi pasar 1,5 juta ton dan hampir 50% lebih tinggi dari Maret 2025. Indonesia menjadi pemasok terbesar dengan 4 juta ton selama kuartal I, tumbuh 11% year-on-year. Australia pun kecipratan rezeki: pengirimannya ke Thailand melonjak 49%.
Proyeksi impor Thailand untuk semester I-2026 kini direvisi naik menjadi 10,7 juta ton, atau tumbuh sekitar 15% dari tahun lalu. Bagi eksportir batu bara Indonesia, ini bukan kabar kecil.
Lantas kenapa harga tetap melemah?
Agaknya pasar belum sepenuhnya percaya pada narasi kebangkitan batu bara yang belakangan ramai beredar. Lembaga riset Ember menyebut lonjakan konsumsi batu bara global, akibat gangguan pasokan gas termasuk dampak penutupan Selat Hormuz yang mendorong Jepang, Filipina, Pakistan, Jerman, dan Italia meninjau ulang kebijakan energi mereka, diperkirakan hanya menghasilkan tambahan sekitar 175 TWh. Kenaikan listrik berbasis batu bara global sepanjang 2026 diproyeksikan maksimal 1,8%, bahkan bisa lebih rendah.
Cerita besarnya, kata para analis, bukan tentang batu bara yang bangkit. Melainkan tentang seberapa cepat tren penurunannya berlanjut, dan fakta bahwa energi surya dan angin justru lebih banyak menggantikan gas ketimbang batu bara.
Jadi buat investor sektor energi dan emiten batu bara domestik, kombinasinya agak membingungkan: demand jangka pendek solid, volume ekspor Indonesia ke Asia Tenggara tumbuh, tapi langit-langit harga seperti sudah ada yang menahan. Rally-nya memang sudah lumayan. Pertanyaannya sekarang, siapa yang berani hold lebih lama?