RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Harga CPO Juni 2026 Turun ke US$1.029/MT, Bayangan...

Finansial

Harga CPO Juni 2026 Turun ke US$1.029/MT, Bayangan El Nino Mulai Mengintai

Pemerintah menetapkan harga referensi CPO Juni 2026 di US$1.029,51/MT, turun hampir 2% dari bulan sebelumnya. Di saat yang sama, ancaman El Nino di Malaysia mulai membayangi outlook produksi semester kedua.

Harga CPO Dibayangi Ancaman El Nino di Malaysia

Harga referensi CPO periode Juni 2026 resmi ditetapkan pemerintah di angka US$1.029,51 per metrik ton, turun US$20,07 atau 1,91% dari posisi Mei yang sebesar US$1.049,58/MT. Bukan sekadar angka di atas kertas, koreksi ini langsung menjadi acuan bea keluar dan pungutan ekspor BPDPKS sepanjang bulan ini.

Tekanan serupa terasa di bursa berjangka Malaysia. Kontrak CPO acuan ditutup di level RM4.475/ton pada Kamis (12/6/2026), melemah 1,67% dalam sehari dan 2,7% secara mingguan dari posisi RM4.601/ton pada 4 Juni. Level RM4.577/ton yang sempat tercatat awal Mei kini sudah tinggal kenangan.

Setidaknya dua faktor besar bekerja bersamaan menekan harga. Pertama, harga minyak mentah Brent tergelincir ke level terendah dalam lebih dari tiga bulan pekan ini, dan itu langsung memangkas daya tarik minyak nabati sebagai bahan baku biodiesel. CPO bersaing ketat dengan solar berbasis minyak bumi, ketika energi fosil murah, argumen beralih ke biodiesel sawit pun melemah. Harga minyak kedelai di Chicago dan minyak sawit di Dalian juga ikut terkoreksi, sehingga tidak ada pelarian ke komoditas substitusi yang bisa menopang CPO.

Kedua, dari sisi fundamental pasokan, produksi global sawit diproyeksikan menguat tahun ini. Glenauk Economics memperkirakan output Indonesia tumbuh 3% dan Malaysia naik 1% menjadi 19,6-19,8 juta ton. Stok minyak sawit Malaysia bahkan naik untuk bulan kedua berturut-turut pada Mei. Pasar sulit panik dalam kondisi seperti ini, bahkan ketika berita buruk datang sekalipun.

Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag Tommy Andana menyebut penurunan harga referensi ini dipicu pelunakan permintaan dari negara importir utama, India salah satunya. Tekanan dari sisi demand itu datang di saat stok masih cukup. Kombinasi yang agaknya belum akan cepat berubah.

Variabel baru mulai masuk radar. Pemerintah Malaysia memperingatkan fenomena El Nino yang berkembang bulan ini berpotensi memangkas hasil panen antara 8%-10%, dengan curah hujan di sejumlah wilayah diperkirakan anjlok 40%-60%. Bagi pelaku pasar komoditas, peringatan semacam ini tidak bisa diabaikan begitu saja karena El Nino 2015-2016 pernah membuat suhu Malaysia melampaui 37 derajat Celsius dan produksi minyak sawitnya ambles hingga 18%. Angka yang tidak main-main.

Respons harga sejauh ini masih teredam. Stok yang relatif memadai membuat pelaku pasar belum merasa perlu ambil posisi agresif untuk mengantisipasi risiko produksi yang dampaknya baru akan terlihat beberapa bulan ke depan. Ibarat pedang bermata dua: tekanan dari harga energi dan pasokan yang masih cukup di satu ujung, ancaman El Nino yang bisa membalikkan seluruh outlook produksi di ujung lainnya.

Khusus untuk Malaysia, sentimen sedikit tertopang kebijakan B15 biodiesel yang mulai dijalankan Juni ini, meski belum cukup kuat untuk mengangkat harga global secara berarti.

Bagi petani sawit dalam negeri, angka-angka ini punya konsekuensi yang sangat konkret. Harga tandan buah segar dihitung dari formula berbasis CPO, sehingga penurunan US$20/MT pada harga referensi berpotensi menggerus harga TBS di kisaran Rp50-80 per kilogram pada periode penetapan berikutnya. Satu sisi positifnya: bea keluar turun menjadi US$148/MT dari sebelumnya US$178/MT, memberi eksportir sedikit ruang nafas di margin.

Level US$1.029/MT memang masih jauh di atas rata-rata historis 2014-2024 yang hanya US$727/MT, tapi psikologi pasar bekerja dengan caranya sendiri. Harga di bawah US$1.100/MT sudah cukup untuk membuat sebagian investor mengernyitkan dahi, terutama yang masuk di level puncak awal tahun. Pertanyaannya: apakah El Nino akan menjadi penyelamat harga di semester kedua, atau justru datang terlambat ketika stok sudah menumpuk? Itu yang masih perlu ditunggu.