RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Harga TBS Sawit Sumatera Terbelah: Sumut Naik, Sum...

Finansial

Harga TBS Sawit Sumatera Terbelah: Sumut Naik, Sumbar Dua Kali Koreksi

Penetapan harga TBS sawit di Sumatera sepanjang awal hingga pertengahan Juni 2026 menunjukkan arah yang berbeda: Sumatra Utara mencatat kenaikan signifikan, sementara Sumatra Barat justru terkoreksi dua periode berturut-turut.

Indonesia Warns 139 Palm Oil Mills Over Low Farmer Prices

Harga tandan buah segar sawit di dua provinsi penghasil utama Sumatera bergerak ke arah berlawanan sepanjang dua pekan pertama Juni 2026. Selisihnya cukup untuk membuat petani di masing-masing wilayah merasakan realita yang jauh berbeda.

Di Sumatera Barat, pelemahan terjadi dua periode berturut-turut. Periode I-Juni (1-7 Juni), harga TBS umur produktif 10-20 tahun ditetapkan Rp3.855,31 per kg, turun Rp150,47 dari periode sebelumnya. Belum selesai, periode II-Juni (8-14 Juni) kembali tergerus Rp170,53 menjadi Rp3.684,78 per kg. Total koreksi dua pekan: lebih dari Rp320 per kilogram. Bukan angka kecil buat petani.

Penurunan ini berjalan seiring pelemahan CPO referensi provinsi. Periode I-Juni, CPO Sumbar ditetapkan Rp14.787,75 per kg dengan indeks K 94,34%. Memasuki periode II-Juni, CPO amblas ke Rp14.357,99 per kg dan indeks K menyusut ke 92,60%. Harga kernel pun ikut tergerus, dari Rp13.915,50 menjadi Rp13.696,00 per kg.

Sumatra Utara justru bercerita sebaliknya. Periode 10-16 Juni 2026, TBS umur 10-20 tahun naik Rp268,96 menjadi Rp3.720,09 per kg. CPO referensi Sumut tercatat Rp15.017,56 per kg, lebih tinggi dibanding CPO Sumbar di periode berdekatan. Indeks K Sumut berada di 93,03%, dengan harga kernel Rp12.365,29 per kg.

Tapi angka provinsi sering menipu. Di level kabupaten, terutama di Batubara dan Asahan, harga TBS dilaporkan hanya sekitar Rp2.450 per kg, jauh di bawah angka penetapan resmi. Ini bukan anomali baru. Selisih antara harga dinas dan harga di lapangan sudah lama jadi keluhan petani plasma, dan agaknya belum ada tanda-tanda jurang itu akan menutup dalam waktu dekat.

Perbedaan arah harga antar provinsi bukan semata cermin fluktuasi CPO global. Biaya transportasi, jarak ke pabrik pengolahan, kondisi jalan kebun, dan daya tawar koperasi lokal ikut menentukan berapa rupiah yang benar-benar masuk ke kantong petani. Penetapan harga dinas adalah angka acuan. Bukan jaminan.

Bagi investor yang pegang saham emiten perkebunan terintegrasi, koreksi dua minggu belum cukup untuk mengubah tesis. Tapi kalau tren pelemahan Sumbar berlanjut ke periode III dan CPO global tidak cepat pulih, tekanan margin di segmen upstream layak masuk hitungan dalam model valuasi semester kedua 2026.