Sejak akhir Mei lalu, jaringan Bitcoin kehilangan sekitar 145 exahash per detik dari total kapasitas komputasinya. Cukup besar untuk membuat sebagian pengamat menyebut ini sebagai bear market hashrate pertama dalam sejarah Bitcoin.
Data dari hashrateindex.com mencatat hashrate jaringan turun dari 1.030 EH/s pada 28 Mei menjadi 885 EH/s, penurunan sekitar 14% dalam hitungan hari. Bersamaan dengan itu, difficulty jaringan terseret turun 10,09% di blok 953.568, dari 138,9 triliun menjadi 124,9 triliun. Galaxy Research mencatat ini sebagai penurunan ke-11 terbesar dalam sejarah jaringan Bitcoin, dan penurunan ketiga yang cukup dalam di tahun 2026, setelah koreksi 11,16% di Februari dan 7,76% di Maret.
Pemicunya sederhana tapi menyakitkan: harga Bitcoin di bulan Juni amblas sekitar 15%, sempat tembus ke bawah US$60.000 sebelum kembali naik di atas US$64.000 lantaran ada harapan soal kesepakatan AS-Iran. Hashprice, ukuran pendapatan harian per satuan daya komputasi, anjlok dari US$38,69 pada 7 Mei menjadi US$28,26 per 7 Juni. Amblas 27% dalam sebulan. Angka yang tidak bisa sekadar dicatat lalu dilupakan.
"Epoch kali ini berjalan 15,6 hari dibandingkan target 14 hari karena hashrate turun," catat Galaxy Research. Waktu rata-rata pembentukan blok sempat melar hingga 11 menit 12 detik, jauh di atas target protokol 10 menit.
CEO Elektron Energy Rapha Zagury menyebut kondisi ini fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hashrate jaringan kini sekitar 25% di bawah puncaknya pada September 2025, dan kontraksi ini bukan akibat guncangan mendadak, melainkan penutupan rig yang bertahap karena memang tidak lagi ekonomis. Keamanan jaringan, menurut Zagury, tetap solid, sebab modal yang dibutuhkan untuk melancarkan serangan 51% masih astronomis. Tapi ia menunjuk masalah yang lebih dalam: biaya transaksi on-chain saat ini hanya menyumbang kurang dari 1% dari total hadiah miner. Bukan penurunan hashrate sementara yang menjadi ancaman struktural sesungguhnya.
Sejumlah miner publik memilih jalan pragmatis: pivot ke infrastruktur AI dan high-performance computing. Kapasitas listrik yang sama dialihkan ke beban kerja yang lebih menguntungkan secara jangka pendek. Bukan hanya soal kelangsungan bisnis miner, strategi ini juga ikut menarik hashrate keluar dari jaringan Bitcoin meski daya listriknya sendiri tidak kemana-mana.
Ada faktor musiman yang turut bermain, dan ini agaknya diabaikan banyak orang. Texas, salah satu basis mining terbesar di Amerika Utara, memasuki musim four-coincident-peak sejak Juni. Operator besar punya insentif kuat untuk mengurangi konsumsi listrik guna menekan biaya transmisi tahun berikutnya. Pengurangan operasi sementara dari Texas berkontribusi pada turunnya hashrate, meski rebound belakangan ini mengisyaratkan ini bukan penutupan permanen.
Bagi miner yang masih bertahan, penurunan difficulty punya sisi terang: setiap blok kini butuh kerja komputasi lebih sedikit, artinya bitcoin yang dikantongi per unit hashrate menjadi lebih banyak. Mekanisme penyesuaian otomatis Bitcoin pada dasarnya memang dirancang untuk ini, menyaring operator tidak efisien dan memberi ruang lebih besar bagi yang bertahan. Seleksi alam versi blockchain.
Dari sisi harga, Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$63.000, atau masih sekitar 50% di bawah rekor tertingginya. Level ini menempatkan BTC di antara dua support krusial: rata-rata bergerak 200 minggu di sekitar US$62.000 dan harga realisasi di sekitar US$54.000. Jika penutupan mingguan tembus ke bawah US$54.000, Bitcoin Electrical Cost di US$48.694, yakni estimasi biaya energi murni untuk mencetak satu BTC, jadi support on-chain berikutnya yang akan diuji.
Analis Ted Pillows menyebut level US$50.000 sebagai area bottom yang paling mungkin, "kecuali terjadi hal yang benar-benar buruk." Charles Edwards dari Capriole Investments menambahkan bahwa harga memang pernah tembus di bawah Electrical Cost, tapi hanya bertahan beberapa minggu dalam sejarah, biasanya dipicu guncangan eksternal macam Covid atau resesi.
Pertanyaannya sederhana: seberapa lama miner bisa menahan napas? Pertemuan The Fed pada 17 Juni, bersamaan dengan keputusan Bank of Japan, bisa menjadi katalis berikutnya, entah ke arah mana. Bagi miner yang sudah beroperasi di dekat titik impas, skenario itu bisa jadi penentu apakah mesin-mesin itu tetap menyala atau tidak.