Perjanjian kredit senilai Rp2,175 triliun ditandatangani HRTA dan Bank Mandiri pada 21 Juli 2026, memperpanjang fasilitas modal kerja yang berlaku mulai 24 Juli 2026 hingga 23 Juli 2027. Bukan sekadar rollover biasa. Ada perubahan struktur agunan di dalamnya, tepatnya penurunan nilai agunan, yang memberi ruang gerak lebih luas bagi PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) dalam mengelola likuiditas.
Nilai Rp2,175 triliun itu setara sekitar 59,4% dari total ekuitas HRTA per Maret 2026 yang tercatat Rp3,66 triliun, sehingga transaksi ini masuk kategori material. Total liabilitas HRTA per kuartal I 2026 berada di Rp10,1 triliun dengan total aset Rp13,76 triliun. Neraca yang padat, tapi lazim untuk emiten distribusi komoditas dengan perputaran modal tinggi.
Bersamaan dengan perpanjangan kredit, HRTA dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga menyatakan efektif Perjanjian Kerja Sama Layanan Penyediaan Produk dan Transaksi Perbankan menggunakan fasilitas Kredit Serbaguna Mandiri Emas, atau KSM Emas. Skema ini aktif sejak 30 Juni 2026, setelah OJK memberikan restu atas produk Mandiri KSM Emas. Lewat kerja sama ini, nasabah Bank Mandiri bisa mengajukan pembiayaan untuk membeli produk EMASKU® yang dipasok HRTA, dengan mekanisme yang sudah mencakup rekonsiliasi, settlement, penanganan investigasi, hingga standar retur.
Direktur Utama HRTA Sandra Sunanto menyebut kemitraan dengan Bank Mandiri kini bukan lagi sekadar hubungan kreditur-debitur. "Sinergi ini semakin memperkuat posisi Hartadinata sebagai mitra strategis institusi keuangan dalam pengembangan ekosistem bullion nasional, sekaligus mendukung pertumbuhan usaha Perseroan secara berkelanjutan," ujar Sunanto dalam keterangan resminya.
Dari sisi HRTA, amunisi modal kerja ini agaknya diarahkan untuk menopang rantai bisnis yang sudah cukup terintegrasi, dari pengadaan bahan baku, pemurnian, manufaktur, sampai distribusi ke seluruh Indonesia. KSM Emas, di sisi lain, membuka kanal baru bagi Bank Mandiri untuk merangkul segmen nasabah yang tertarik investasi emas. Segmen yang, kalau data beberapa tahun terakhir bisa jadi patokan, permintaannya terus melejit.
BMRI sendiri baru saja melaporkan kinerja semester pertama 2026 yang solid: kredit bank-only melonjak 19,9%, laba bersih konsolidasian meroket 24,4%. Ekspansi KSM Emas bersama HRTA bisa jadi salah satu motor tumbuh untuk semester kedua. Entah kebetulan atau tidak, timingnya memang rapi.
Bagi investor HRTA, dua langkah ini memberi sinyal yang cukup terbaca: struktur pendanaan diperkuat, kanal distribusi diperluas. Pertanyaannya, seberapa cepat volume transaksi KSM Emas bisa berkontribusi nyata ke topline, dan apakah margin HRTA bisa dijaga ketika skala pembiayaan terus membesar?