Harga rata-rata minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) bulan Mei 2026 ditetapkan US$106,56 per barel, anjlok US$10,75 dari posisi April yang bertengger di US$117,31 per barel. Dua tekanan datang bersamaan: pasokan global membaik seiring meredanya ketegangan geopolitik, dan permintaan Asia yang sedang lesu.
Dari sisi geopolitik, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman menyebut deeskalasi konflik di Timur Tengah sebagai katalis utama. Sepanjang Mei, sinyal dari Washington cukup konsisten. Presiden AS Donald Trump berulang kali membuka peluang berakhirnya konflik dengan Iran, rencana serangan lanjutan dibatalkan, dan relaksasi sanksi sementara terhadap minyak Rusia yang sudah di laut kembali diberlakukan. "Perkembangan itu menurunkan kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya pasokan minyak dunia dan menekan harga minyak mentah di pasar internasional," kata Laode.
Geopolitik hanya separuh ceritanya. Separuh sisanya datang dari Asia, dan angkanya cukup mencolok. International Energy Agency (IEA) memperkirakan permintaan minyak dunia menyusut 420 ribu barel per hari ke kisaran 104 juta barel per hari, dengan pukulan terdalam pada triwulan II 2026 yang mencapai 2,45 juta barel per hari. Cina, Jepang, Korea Selatan, dan India semuanya mencatat penurunan impor sepanjang Februari hingga April 2026.
Yang paling berat agaknya Cina. Aktivitas pengolahan minyak mentah atau crude throughput di Negeri Tirai Bambu merosot 5,8% secara tahunan menjadi 13,35 juta barel per hari. Terendah dalam 44 bulan. Kalau kilang-kilang Cina sedang tidak gila-gilaan beroperasi, permintaan fisik memang sulit naik.
Menarik jika dibandingkan dengan pergerakan harga minyak berjangka. Meski ICP dan Dated Brent sama-sama tergerus, beberapa kontrak futures justru naik tipis. Brent ICE naik US$1,25 ke US$103,71 per barel, WTI Nymex menguat US$0,45 ke US$98,51 per barel, dan basket OPEC bahkan menguat US$3,45 ke US$112,24 per barel per 29 Mei 2026. Dated Brent sendiri amblas US$12,99 per barel, dari US$120,55 ke US$107,55. Divergensi antara harga fisik dan berjangka ini, kalau data ini bisa dipercaya sebagai sinyal, mengindikasikan pasar masih gamang soal arah permintaan.
Laode dalam keterangan resminya menegaskan komitmen pemerintah. "Melalui pemantauan yang berkelanjutan dan langkah antisipatif yang diperlukan, pemerintah berkomitmen menjaga ketahanan energi nasional dan memastikan ketersediaan pasokan energi bagi masyarakat," tegasnya.
Bagi investor sektor energi domestik, penurunan ICP hampir 10% dalam satu bulan bukan angka kecil, terutama dalam konteks asumsi harga minyak dalam APBN. Pertanyaannya, berapa lama koreksi ini bertahan, atau justru ini baru pembukaan dari tren yang lebih panjang?