RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  IHSG Amblas 8,69% Sepekan, Hampir Seribu Triliun N...

Finansial

IHSG Amblas 8,69% Sepekan, Hampir Seribu Triliun Nilai Pasar Menguap

IHSG ditutup di level 5.594,76 pada pekan perdagangan 2–5 Juni 2026, dengan kapitalisasi pasar BEI anjlok Rp922 triliun. Di tengah tekanan hebat, segelintir saham justru mencetak cuan jumbo.

Barisan Saham Penopang Gerak Pasar - Halaman all

Sepekan penuh, IHSG dihajar koreksi yang tidak main-main. Indeks ditutup di level 5.594,76 pada Jumat, 5 Juni 2026, ambles 8,69% dari posisi 6.127,3 sepekan sebelumnya. Kapitalisasi pasar BEI ikut terseret, anjlok 8,59% menjadi Rp9.807 triliun dari Rp10.729 triliun, atau kalau mau dibilang dengan cara lain: Rp922 triliun lenyap dalam empat hari perdagangan.

Angka yang tidak main-main. Investor asing mencatatkan aksi jual bersih Rp3,73 triliun hanya pada Jumat saja, sementara sepanjang tahun berjalan tekanan jual asing sudah menyentuh Rp61,36 triliun. Agaknya tren ini belum menunjukkan tanda pembalikan dalam waktu dekat.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hasan Fawzi menyebut koreksi ini sebagai respons pasar terhadap kombinasi faktor global dan domestik, termasuk penyesuaian portofolio pasca-rebalancing oleh penyedia indeks global. "Terdapat juga perkembangan berbagai indikator dan sentimen ekonomi baik domestik maupun global yang juga turut mempengaruhi dan menjadi bagian yang diperhitungkan oleh para investor," kata Hasan dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan yang digelar daring, Jumat lalu. Ia mengimbau pelaku pasar untuk mencermati dinamika secara objektif, proporsional, dan tetap rasional, kalimat yang biasa terdengar saat regulator ingin meredam panik tanpa terlihat panik.

Ada ironi menarik di balik indeks yang rontok itu. Frekuensi transaksi harian justru melonjak 14,11% menjadi 2,41 juta kali, dan volume harian naik 8,66% ke 33,63 miliar lembar saham. Yang tergerus malah rata-rata nilai transaksi harian, susut 5,71% menjadi Rp26,97 triliun dari Rp28,38 triliun sepekan sebelumnya. Orang ramai bertransaksi, tapi dengan nilai lebih kecil per transaksi. Bisa jadi sinyal akumulasi di harga murah. Bisa jadi juga panik selling bertahap yang menyamar rapi.

Dua interpretasi yang sama-sama masuk akal, dan pasar belum memberikan jawaban.

Meski begitu, ada barisan saham yang justru jadi penopang saat indeks ambruk. PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) tampil sebagai kontributor terbesar dengan sumbangan 14,04 poin terhadap IHSG, ditopang kenaikan harga 11,27% ke level Rp20.000. Menyusul PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dengan kontribusi 10,7 poin dan kenaikan 8,79%, serta PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang menorehkan kontribusi 10,41 poin seiring lonjakan harga 23,98% ke Rp610.

"Data perdagangan saham di BEI selama periode 2-5 Juni 2026 ditutup pada zona bervariasi," kata Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad dalam keterangan resmi, Sabtu kemarin. Eufemisme yang tepat untuk menggambarkan pasar yang sebagian besar merah, tapi punya kantong-kantong hijau yang lumayan mencolok.

Top gainers pekan ini? Cukup mengejutkan. PT Multi Medika Internasional Tbk (MMIX) memimpin dengan kenaikan 77,73% dari Rp422 ke Rp750. PT Nusantara Almazia Tbk (NZIA) melesat 74,24% menjadi Rp230, PT Satu Visi Putra Tbk (VISI) melonjak 38,26% menjadi Rp1.030, dan PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) menguat 31,71% ke Rp540. Kenaikan seperempat hingga tiga perempat dalam hitungan sepekan, di tengah indeks yang amblas, kalau data ini bisa dipercaya sebagai cerminan fundamental, itu satu hal. Tapi tidak selalu begitu.

PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) juga masuk daftar penopang IHSG, masing-masing menyumbang 4,02 poin dan 1,8 poin. Tidak spektakuler, tapi stabil. Dan di pasar seperti pekan ini, stabilitas relatif itu sendiri sudah jadi nilai tersendiri.

Pertanyaannya sekarang: apakah level 5.594 sudah cukup dalam untuk mulai bargain hunting, atau masih ada lantai berikutnya yang menunggu?