Pekan ini pasar modal Indonesia kena tampar keras. IHSG ditutup di level 5.594,77 pada perdagangan 2-5 Juni 2026, amblas 532,62 poin atau 8,69% dari posisi pekan sebelumnya di 6.127,38. Koreksi sedalam ini bukan sesuatu yang bisa dianggap biasa, dan pasar tahu itu.
Dua konglomerat besar tampil sebagai penopang di tengah kepanikan. PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) memimpin daftar top leaders versi BEI dengan kontribusi 14,04 poin ke indeks, ditopang kenaikan harga saham 11,27% dalam sepekan. Sesama grup, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menyumbang 10,41 poin setelah harganya melesat hampir 24%, eh, hampir 23,98% tepatnya, dalam periode sama. Bukan angka kecil, kalau data ini bisa dipercaya, mengingat kondisi pasar sedang tidak bersahabat.
Dari kubu Barito, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) milik Prajogo Pangestu turut menahan kejatuhan indeks dengan kontribusi 10,70 poin, setelah sahamnya menguat 8,79% sepanjang pekan. Entah kebetulan atau tidak, ketiga saham ini bergerak berlawanan arah dari mayoritas pasar, bak gayung bersambut di kala yang lain pontang-panting.
Bluechip justru jadi beban terberat. BBCA menyeret indeks turun 58,55 poin sendirian, angka yang tidak main-main. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menambah tekanan 32,93 poin, dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) berkontribusi pada pelemahan sebesar 28,19 poin. Tiga nama itu saja sudah menggerus indeks hampir 120 poin.
Investor asing lari. Sepanjang sepekan, mereka membukukan net sell senilai Rp7,39 triliun atau sekitar US$410,74 juta. Pelarian modal skala ini ikut menekan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia yang menyusut 8,59% menjadi Rp9.807 triliun, dari Rp10.729 triliun pekan sebelumnya. Hampir Rp922 triliun nilai pasar menguap dalam lima hari perdagangan. Masif.
Data transaksi punya cerita tersendiri. Volume harian rata-rata naik 8,66% menjadi 33,63 miliar saham, tapi rata-rata nilai transaksi harian malah tergerus 4,98% ke Rp26,97 triliun. Total seluruh transaksi pasar selama sepekan mencapai Rp107,87 triliun dengan 134,51 miliar lembar saham berpindah tangan. Volume naik, nilai turun: pola klasik yang menunjukkan yang ramai diperdagangkan adalah saham-saham murah, bukan yang berbobot besar.
Pertanyaannya, berapa lama rotasi ini bertahan? IHSG kini bertengger di kisaran 5.500-an, dan yang lebih relevan buat investor bukan lagi soal apakah koreksi sudah cukup dalam, melainkan apakah aliran dana ke saham konglomerat seperti SMMA dan DSSA ini akan berlanjut, atau sekadar anomali sesaat yang akan pudar begitu sentimen pulih.