Jumat kemarin jadi hari yang berat bagi pasar keuangan Indonesia. IHSG ditutup ambles 1,88% ke level 6.196,43, dengan 587 saham merah berbanding hanya 104 yang berhasil menguat. Nilai transaksi tercatat Rp17,72 triliun dari 37,91 miliar saham yang berpindah tangan sebanyak 2,25 juta kali, angka yang cukup ramai untuk sesi koreksi sebrutal ini.
Saham konsumen non-primer jadi yang paling babak belur, minus 3,37%. Disusul barang baku turun 2,2% dan energi melemah 2,14%. Big caps pun kena tampar. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) jadi pemberat terbesar sepanjang sesi. Di jajaran LQ45, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dihajar paling keras, amblas 7,28%. DEWA turun 6,36%, ADMR melemah 5,73%. MBMA, EXCL, dan SCMA masing-masing kehilangan antara 4,81% hingga 5,61%.
Dua peluru sekaligus. Begitu cara Mega Capital Sekuritas membaca pemicu aksi jual masif hari itu: pertama, pengumuman tarif baru dari Kepala Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer yang menggantikan tarif global sementara 10%; kedua, meluasnya konflik AS-Iran ke Selat Bab al-Mandab, ditandai serangan terhadap dua tanker minyak Arab Saudi. Keduanya menghantam sentimen dalam satu sesi.
Rupiah pun tak sanggup bertahan. Mata uang Garuda sempat menyentuh Rp17.977 per dolar AS dalam perdagangan intraday, selangkah lagi dari level psikologis Rp18.000 yang selama ini dianggap sebagai batas merah. Penutupan berbeda tipis antara dua sumber data: Refinitiv mencatat rupiah terdepresiasi 0,28% ke Rp17.935 per dolar AS, sementara Bloomberg mematok pelemahan 0,15% di Rp17.943. Beda angka, tapi pesannya sama: rupiah tergerus nyata. Secara year-to-date, sudah hampir 7% menguap.
Konteks makronya, agaknya, lebih mengkhawatirkan dari sekadar angka harian. Harga minyak yang bertahan tinggi akibat tensi Timur Tengah berpotensi memperlebar defisit fiskal sekaligus neraca perdagangan Indonesia. Rata-rata yield dalam Bloomberg Global Treasury Index sudah melonjak ke 3,68%, melampaui puncak tiga tahun lalu dan menjadi yang tertinggi sejak krisis keuangan global 2008. Kapan terakhir kali angka itu terlihat? Tepat saat Lehman Brothers kolaps.
Di level regional, rupiah bukan satu-satunya yang tertekan. Yen Jepang ambruk 0,89% secara mingguan dan kini mendekati level JPY165 per dolar, posisi yang bagi banyak analis jadi ambang batas sebelum Tokyo terpaksa turun tangan. Pada pekan ini dolar sempat menyentuh JPY163,99, terlemah sejak 1986. Spekulasi intervensi Bank of Japan terus menguat, meski sebagian kalangan meragukan efektivitasnya selama dolar masih mengamuk. Masato Koike dari Sompo Institute Plus bahkan memperingatkan pasar untuk bersiap dengan skenario pemerintah Jepang tidak turun tangan sama sekali, sehingga yen berpotensi terus melemah.
Won Korea jadi anomali. Mata uang Negeri Ginseng melesat 1,89% dalam sepekan, tapi jangan terlalu iri dulu: US Treasury kembali memasukkan Korea Selatan ke daftar pemantauan mata uang bersama sembilan negara lain, termasuk China, Jepang, dan Singapura. Keempat kalinya berturut-turut. Washington menilai pelemahan won tidak konsisten dengan fundamental Korea yang solid, meski surplus transaksi berjalannya mencapai 6,6% dari PDB.
Indeks dolar sendiri berakhir di 100,468 pada penutupan Jumat, tertinggi sejak 24 Juni 2026. Kombinasi ekspektasi suku bunga Fed yang bertahan tinggi lebih lama, lonjakan harga minyak, dan eskalasi konflik geopolitik membuat investor terus memburu aset berbasis dolar.
Bagi pemegang portofolio saham Indonesia, IHSG minus 28% sepanjang tahun ini bukan sekadar statistik. Hampir sepertiga nilai aset sudah menguap sejak Januari. Pertanyaannya sekarang bukan lagi kapan recovery, tapi seberapa dalam dulu sebelum ada katalis yang cukup kuat untuk membalikkan arus.