Angka 5.594. Itu level penutupan IHSG pada Jumat (5/6/2026), setelah indeks dihajar koreksi 245,02 poin atau 4,2% hanya dalam satu sesi. Dalam sepekan penuh, indeks tercatat ambles 8,73%, salah satu pelemahan mingguan terdalam dalam beberapa tahun terakhir.
Yang bikin pasar makin cemas bukan sekadar angka indeksnya. Investor asing membukukan net sell Rp 13,78 triliun sepanjang pekan ini, sementara outflow year-to-date sudah menggunung hingga Rp 57,63 triliun. Dana keluar sebesar itu bukan sinyal biasa.
Rupiah ikut terseret. Mata uang Garuda ditutup melemah 0,46% ke level Rp 18.049 per dolar AS, dengan pelemahan kumulatif sekitar 1,3% selama sepekan. Dari situ, spekulasi mulai beredar bahwa Bank Indonesia bisa saja menggelar Rapat Dewan Gubernur darurat sebelum jadwal reguler 17-18 Juni 2026.
Apa yang sebenarnya terjadi? Herditya Wicaksana, Head of Retail Research MNC Sekuritas, menilai kepercayaan investor global terhadap kebijakan di Indonesia tengah menurun. Kalimat yang terdengar diplomatis, tapi impikasinya serius.
Pelaku pasar agaknya kena tampar dua hal sekaligus. Pertama, munculnya rumor dan ketidakjelasan seputar rencana revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK), yang memunculkan kekhawatiran soal independensi lembaga keuangan, isu yang secara historis selalu sensitif di mata investor institusi asing. Kedua, data fiskal yang kurang nyaman: defisit APBN hingga Mei 2026 tercatat Rp 180,4 triliun atau 0,7% dari PDB, melonjak drastis dibanding Rp 20,9 triliun atau 0,09% PDB di periode yang sama tahun 2025. Masih jauh di bawah target defisit tahunan Rp 689,1 triliun, memang. Tapi laju pelebarannya yang cepat patut dicermati.
Valdy Kurniawan, Head of Research and Education Phintraco Sekuritas, menyebut kombinasi antara ketidakpastian kebijakan dan rumor yang berputar cukup untuk memantik tekanan jual yang sulit dibendung. Kondisi semacam ini, kata dia, kerap menciptakan efek bola salju.
Untuk perdagangan Senin (8/6), Herditya memperkirakan IHSG belum akan menemukan pijakan solid. Level support terdekat ada di 5.517, resistance di 5.734. Kalau support itu jebol, level psikologis 5.500 yang disebut Valdy sebagai target pengujian pekan depan menjadi skenario realistis, bukan sekadar skenario terburuk. Bukan main.
Dari sisi katalis, ada beberapa data yang layak diperhatikan pekan depan: cadangan devisa Mei 2026 rilis Senin, consumer confidence Mei pada Rabu, dan retail sales April pada Kamis. Data-data itu bisa jadi pengubah arah, atau justru memperkuat narasi pelemahan yang sudah berjalan.
Bagi investor yang masih punya posisi, Herditya merekomendasikan ANTM dengan target harga Rp 3.020-Rp 3.200, BRMS di kisaran Rp 610-Rp 660, dan MBMA dengan target Rp 472-Rp 520. Ketiganya berbasis komoditas, sektor yang secara teknikal masih relatif defensif ketika kepanikan seperti ini melanda.
Pertanyaan yang lebih mendasar: apakah ini sekadar koreksi teknikal biasa, atau ada sesuatu yang lebih struktural sedang bergerak di bawah permukaan? Jawabannya, entah kebetulan atau tidak, mungkin mulai terbaca dari data cadangan devisa Senin pagi.