Dari level 5.346 di awal Juni, IHSG butuh kurang dari dua pekan untuk kembali menembus angka psikologis 6.000. Jumat (12/6/2026), indeks ditutup di 6.007,65, naik 121,62 poin atau 2,7% dalam sehari, dengan kenaikan mingguan yang menorehkan 7,38%. Bukan rebound biasa.
Saham-saham BUMN jadi bahan bakar utama reli ini. Sektor pertambangan pelat merah menguat hingga sekitar 7% dalam sehari, sementara kelompok Himbara dan Telkom juga mencatat akumulasi beli yang solid dari investor domestik maupun asing. Sepanjang sesi, tekanan jual yang selama berminggu-minggu menekan indeks seolah berbalik arah.
Titik balik sesungguhnya terjadi pada 9 Juni, ketika Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco secara terbuka mendorong Himbara, Danantara, BPJS Ketenagakerjaan, dan Taspen untuk melakukan buyback saham BUMN. IHSG melesat 7,57% hanya dalam satu hari perdagangan. Efek kejut yang agaknya memang disengaja.
Di hari yang sama, Bank Indonesia memangkas suku bunga acuan menjadi 5,5%. Langkah ini langsung memperkuat sentimen pasar dan memberi napas lebih panjang bagi obligasi pemerintah. Yield tenor 5 tahun dan 10 tahun pun mulai melandai, memberi sinyal bahwa inflow ke pasar surat utang ikut bergerak.
Katalis ketiga datang dari kabar penataan ulang program Makan Bergizi Gratis yang sebelumnya membayangi kekhawatiran pelebaran defisit fiskal. Kepanikan terhadap ruang fiskal yang makin sempit sempat menghajar rupiah dan obligasi, tapi sinyal pemangkasan anggaran MBG cukup untuk meredam tekanan itu.
"Kami sangat bersyukur dan mengapresiasi kinerja positif IHSG yang kembali menembus level 6.000," ujar COO Danantara sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria. Ia menegaskan penguatan ini bukan sekadar momentum sesaat, melainkan hasil dari proses transformasi yang terus berjalan di tubuh BUMN. Klaim yang masih perlu dibuktikan beberapa kuartal lagi, tapi pasar untuk sementara mau percaya.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi ikut angkat bicara, meminta publik tetap tenang sembari menegaskan bahwa sektor perbankan nasional masih berdiri kokoh. Koordinasi lintas lembaga ini, menurut analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand, menjadi salah satu faktor yang membangun kembali kepercayaan investor setelah periode kepanikan jual yang berkepanjangan.
Lalu bagaimana nasib Senin?
Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas memperingatkan bahwa IHSG rawan terkoreksi terbatas pada perdagangan 15 Juni, dengan support di 5.988 dan resistance di 6.060. Geopolitik Timur Tengah masih jadi variabel kunci. Upaya diplomatik AS-Iran pasca insiden sebelumnya sempat meredakan ketegangan dan menekan harga minyak global, tapi situasi di kawasan itu bisa berbalik dengan cepat. Entah kebetulan atau tidak, setiap kali minyak melemah, IHSG punya ruang napas lebih.
Untuk saham pilihan, Herditya menyebut HMSP dengan target Rp 650-670, INDY di kisaran Rp 2.560-2.810, dan NCKL di Rp 930-990. Tiga nama dari sektor yang berbeda. Kalau data ini bisa dipercaya sebagai sinyal, pemulihan indeks kali ini memang lebih merata ketimbang reli yang hanya ditopang satu atau dua sektor.
Net sell asing secara tahun berjalan masih cukup besar. Angka yang tidak boleh diabaikan begitu saja.