RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  IHSG Reli 10% dalam Dua Hari, tapi Asing Masih Jua...

Ekonomi

IHSG Reli 10% dalam Dua Hari, tapi Asing Masih Jual Bersih Rp2,9 T

IHSG sukses menutup sesi Rabu di level 5.902, melengkapi reli lebih dari 10 persen hanya dalam dua hari. Di balik euforia itu, investor asing justru masih melepas saham senilai Rp2,9 triliun.

apakah 8 april kali ini akan menjadi titik balik IHSG lagi?

Dua hari. Lebih dari 10 persen. IHSG menutup perdagangan Rabu (10/6/2026) di level 5.902,376, menguat 2,71 persen, setelah sehari sebelumnya melesat 7,57 persen atau setara 404 poin ke area 5.746,64. Reli sekencang ini sudah cukup lama tidak terlihat di Bursa Efek Indonesia, dan pasar punya alasan untuk berhenti sejenak lalu bertanya: sampai mana ini bisa berlanjut?

Pemantik utamanya bukan satu, tapi dua sekaligus. Rupiah menguat ke bawah Rp18.000 per dolar AS, sinyal yang langsung dibaca positif oleh pasar. Kenaikan BI Rate 25 basis poin menjadi 5,50 persen, yang oleh sebagian kalangan semula dianggap berisiko, justru menenangkan investor karena kebijakan moneter yang lebih ketat dinilai mampu meredam tekanan nilai tukar sekaligus mengerek daya tarik aset keuangan domestik. Dari sisi fiskal, pemerintah mempertahankan harga BBM bersubsidi dan LPG bersubsidi, meredakan kekhawatiran soal daya beli dan inflasi yang sempat memanas setelah harga Pertamax non-subsidi dinaikkan.

Tapi ada yang mengganjal di balik pesta ini. Investor asing tercatat net sell Rp2,9 triliun sepanjang perdagangan Rabu saja. BBRI kena lepas paling besar, Rp571 miliar, disusul TPIA Rp395 miliar, BBNI Rp147 miliar, ANTM Rp133 miliar, dan BUMI Rp125 miliar. Artinya, reli ini lebih banyak ditopang buyer domestik. Bukan arus modal asing yang kembali masuk.

Hendra Wardana, Founder Republik Investor, tidak berputar-putar soal ini. "Penguatan yang terjadi saat ini masih lebih banyak ditopang oleh investor domestik dibandingkan oleh arus dana asing yang berkelanjutan," katanya kepada Kompas.com, Rabu malam. Asing memang sesekali beli di beberapa nama: GOTO Rp24 miliar, BREN Rp22 miliar, INDF Rp12 miliar, serta GGRM dan SUPA masing-masing Rp10 miliar. Tapi angka-angka itu tenggelam dibandingkan nilai jualnya. Jauh.

Secara teknikal, reli secepat ini hampir selalu berakhir dengan konsolidasi. Bak gayung bersambut dengan kekhawatiran pasar, Hendra memperkirakan peluang koreksi atau profit taking di perdagangan Kamis (11/6/2026) lebih besar ketimbang peluang melanjutkan tren naik. "Aksi ambil untung berpotensi muncul setelah reli yang berlangsung sangat cepat, terlebih ketika investor asing masih mencatatkan penjualan bersih dalam jumlah besar," tegasnya. Area support dipatok di 5.731, resistance psikologis berikutnya di 6.000. Selama indeks bertahan di atas 5.700, tren pemulihan jangka menengah masih utuh, setidaknya itu yang diyakini Hendra.

Risiko eksternal belum selesai bicara. Eskalasi ketegangan AS-Iran masih menghantui pasar energi global. Selat Hormuz yang terganggu bisa memicu lonjakan harga minyak, yang ujungnya menekan inflasi global dan membuat The Fed berpikir dua kali sebelum memangkas suku bunga. Data inflasi AS yang akan dirilis dalam waktu dekat bakal jadi petunjuk penting, kalau data itu bisa dipercaya sebagai cermin arah kebijakan.

Dampak domestik dari BI Rate yang lebih tinggi juga patut diperhitungkan. Biaya dana yang merangkak naik berpotensi memperlambat kredit, mendongkrak NPL di beberapa sektor, dan menggerus konsumsi jika bertahan lama. Bukan ancaman yang meledak besok pagi, tapi bukan sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja oleh investor yang megang saham perbankan.

IHSG kini berdiri di ambang level psikologis 6.000. Pertanyaannya bukan apakah koreksi akan datang, tapi seberapa dalam jika memang terjadi.