RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  IHSG Terombang-ambing Gencatan Senjata: Euforia Se...

Ekonomi

IHSG Terombang-ambing Gencatan Senjata: Euforia Sehari, Tekanan Berlapis

Dari level 8.235 di akhir Februari, IHSG sempat ambruk ke bawah 7.000 sebelum memantul. Tapi ancaman retaknya gencatan senjata AS-Iran membuat pemulihan itu rapuh.

Sejak perang Iran melawan agresi Amerika Serikat dan Israel pecah pada 28 Februari lalu, Indeks Harga Saham Gabungan sudah bukan lagi tempat yang nyaman.

Dari level 8.235 pada penutupan 27 Februari, IHSG rontok perlahan hingga menyentuh 6.989 pada Selasa (7/4), pertama kalinya... tunggu, bukan begitu cara menceritakannya. Itu adalah pertama kalinya dalam waktu lama indeks jeblok ke bawah 7.000. Sesi itu brutal: 412 saham amblas, hanya 255 yang mampu bertahan hijau, sisanya stagnan.

Lalu datang kabar gencatan senjata dua pekan antara Iran dan AS. Pasar bereuforia. IHSG melonjak 308,18 poin atau 4,42% ke level 7.279 pada Rabu (8/4). Rupiah ikut menguat. Sesaat, semua terasa lebih ringan.

Tidak lama.

Kamis pagi (9/4), indeks dibuka terkoreksi ke kisaran 7.238 setelah Iran menuding AS melanggar kesepakatan. Tekanan datang berlapis: geopolitik yang kembali membara, risalah rapat Federal Reserve yang membuka ruang kenaikan suku bunga, kekhawatiran Selat Hormuz tak akan dibuka sesuai jadwal. Rupiah pagi itu melemah ke Rp17.020 per dolar AS.

Sorenya, cerita berbalik. IHSG ditutup menguat 0,39% ke 7.307,59, tepat di titik tertinggi harian, setelah sempat menyentuh level terendah 7.191. Analis Phintraco Sekuritas mencatat pembalikan ini terjadi meski tekanan awal sesi cukup berat, dipicu serangan Israel ke Lebanon yang memperkeruh rencana pembukaan Selat Hormuz.

Volatil. Satu kata yang merangkum semuanya.

Pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi menjelaskan, ketika perang berlangsung investor tidak hanya panik soal bom dan rudal. Yang lebih bikin keringat dingin adalah efek dominonya: infrastruktur pupuk dan fasilitas strategis yang jadi sasaran serangan mendorong harga minyak mentah melampaui US$113 per barel. Minyak mahal memicu inflasi, inflasi menggerus rupiah, dan rupiah yang sempat di atas Rp17.000 membuat kebutuhan devisa untuk impor minyak ikut meledak.

"Yang terjadi apa, barang-barang impor mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Seperti barang-barang retail ya. Sehingga membuat pemerintah ini harus memiliki dolar yang cukup besar untuk melakukan pembelian terhadap minyak mentah," kata Ibrahim kepada CNNIndonesia.com, Rabu (8/4).

Ibrahim menambahkan, tekanan IHSG kali ini juga bertepatan dengan musim dividen kuartal pertama 2026, yang secara historis memang berimbas negatif pada indeks. Dan ada satu variabel lain yang agaknya paling mengganggu: kemungkinan defisit APBN melewati batas 3% dari PDB, sesuatu yang disinggung sendiri oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Kenaikan suku bunga The Fed kini kembali masuk skenario yang diperhitungkan. Harga minyak WTI dan Brent masih bergentayangan di kisaran US$96,6 per barel, dikombinasikan dengan inflasi yang belum jinak, membuat bank sentral AS sulit bersikap dovish. Investor asing, yang selama ini jadi tulang punggung likuiditas bursa domestik, punya banyak alasan untuk terus menahan diri.

Ronny P Sasmita dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution mengingatkan soal kerentanan struktural yang sudah lama diketahui tapi belum juga diperbaiki: pasar modal Indonesia terlalu bergantung pada dana asing. Kalau asing keluar, IHSG goyah. Terbukti, berulang kali. Solusinya bukan rahasia, kata Ronny: dana pensiun, asuransi, dan sovereign fund perlu didorong lebih aktif masuk ke pasar saham domestik.

Buat investor ritel, Ronny punya saran yang cukup lugas. Jangan ikut drama pasar, fokus ke fundamental, hindari overtrading. Volatilitas tinggi memang menggoda untuk trading harian, tapi mayoritas ritel justru kalah di sini, bak masuk kandang harimau dengan senjata plastik. Masuk bertahap saat koreksi, jaga cash buffer. Dan yang terpenting: ubah cara pandang. Volatilitas bukan ancaman, melainkan diskon bagi yang sabar.

Harga emas dunia sendiri masih relatif stabil di US$4.713 per troy ons atau sekitar Rp2,59 juta per gram. Bisa jadi sinyal bahwa pelaku pasar global memilih bertahan di aset aman sambil menunggu kepastian. Atau sekadar menunggu gencatan senjata ini tidak bubar lebih cepat dari yang dijanjikan.

Dua pekan. Setelah itu, tidak ada yang tahu.