Senin pagi, 6 April 2026. Belum genap semenit sesi pertama dibuka, IHSG sudah melemah.
Pada pukul 9.01, indeks kehilangan 25,22 poin atau 0,36% ke level 7.001. Volume perdagangan di awal sesi tercatat 1,36 miliar saham, nilai transaksi Rp2,08 triliun, frekuensi 102.065 kali. Dari seluruh saham yang bergerak, 359 langsung tertekan. Hanya 162 yang bertahan di zona hijau. Sisanya, 170 saham, diam di tempat.
Penyebabnya bukan dari domestik.
Akhir pekan lalu, Trump kembali melempar gertakan keras ke Teheran. Presiden AS itu memberi Iran tenggat 48 jam untuk mencapai kesepakatan, atau menghadapi, dalam kata-katanya sendiri, "neraka besar." Belum cukup, Trump juga menyinggung rencana serangan "extremely hard" ke Iran dalam dua hingga tiga minggu, pernyataan yang sontak mendorong harga minyak melonjak dan memantik gelombang risk-off di pasar global.
BRI Danareksa Sekuritas menyebut dua hal itu, ancaman serangan dan lonjakan minyak, sebagai katalis negatif utama hari ini. Bukan kejutan, kalau jujur. Pasar sudah hafal pola ini: begitu retorika Trump soal Timur Tengah memanas, modal lari duluan.
Secara teknikal, gambarannya pun tidak menghibur. BRI Danareksa memproyeksikan pelemahan lanjutan lewat pola descending triangle, dengan area support yang diincar di kisaran 7.000 hingga 6.950. Level 7.000 kini bukan sekadar angka psikologis. Kalau jebol, tekanan jual bisa makin buas.
Pertanyaannya sederhana: ultimatum 48 jam Trump berujung kesepakatan atau eskalasi? Jawaban itulah yang akan mewarnai pergerakan IHSG setidaknya beberapa hari mendatang.