RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  IKI April Tetap Ekspansi 51,75 Poin, Kemenperin Ba...

Ekonomi

IKI April Tetap Ekspansi 51,75 Poin, Kemenperin Bantah Klaim Deindustrialisasi

Kemenperin menegaskan sektor manufaktur Indonesia justru mencatat penguatan kontribusi terhadap PDB, sementara Indeks Kepercayaan Industri April 2026 bertahan di zona ekspansi meski sedikit mendingin.

Kontribusi industri pengolahan terhadap PDB nasional menyentuh 19,07 persen di 2025. Naik konsisten dari 18,34 persen pada 2022, lalu 18,67 persen di 2023, kemudian 18,98 persen di 2024. Kemenperin menyebut tren ini sebagai bantahan telak terhadap klaim deindustrialisasi yang kerap dilontarkan sejumlah ekonom.

Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif menegaskan tiga syarat deindustrialisasi tidak satu pun terpenuhi di Indonesia: penurunan kontribusi industri terhadap PDB, pertumbuhan manufaktur di bawah separuh laju ekonomi nasional, dan pergeseran investasi serta tenaga kerja keluar dari sektor pengolahan. "Kami memandang bahwa industri manufaktur Indonesia tidak atau belum masuk kepada deindustrialisasi dini," tegas Febri.

Bukan main.

Sepanjang 2025, industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,30 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional 5,11 persen. Pertama kalinya dalam 14 tahun terakhir. Pencapaian yang, agaknya, belum banyak disadari publik luas.

Dari sisi tenaga kerja, arahnya searah. Penyerapan di sektor pengolahan nonmigas naik dari 15,49 juta orang pada 2015 menjadi 18,90 juta orang di 2019, sempat tergerus ke 17,44 juta saat pandemi menghantam di 2021, lalu pulih lagi ke 20,26 juta per Agustus 2025. Pemulihan berlangsung lebih cepat dari yang banyak orang perkirakan.

Investasi baru pun mengalir deras. Data SIINas per 23 April 2026 mencatat 633 perusahaan sedang membangun fasilitas produksi baru di kuartal pertama tahun ini, total rencana serapan tenaga kerja 219.684 orang, nilai investasi Rp418,62 triliun. Angka yang tidak main-main, dan itu hanya dari yang sudah melapor ke sistem.

Kemenperin juga menepis perbandingan historis yang kerap dipakai para pengkritik. Penurunan kontribusi industri dari kisaran 28-29 persen di awal 2000-an ke sekitar 19 persen saat ini bukan cerminan pelemahan struktural. Penyebabnya: perubahan metodologi BPS dari seri 2000 ke seri 2010, di mana cakupan PDB nasional diperluas dari sembilan menjadi 21 lapangan usaha, dan pendekatan perhitungan beralih dari harga produsen ke harga dasar. Membandingkan angka lintas periode tanpa memperhitungkan pergeseran metodologi ini, kata Febri, ibarat membandingkan apel dengan jeruk.

Bersamaan dengan narasi makro itu, Kemenperin merilis Indeks Kepercayaan Industri April 2026. Hasilnya: 51,75 poin, masih di zona ekspansi meski sedikit turun dari 51,86 poin bulan lalu. Dari 23 subsektor yang dianalisis, 16 mencatat ekspansi dengan kontribusi gabungan 78,9 persen terhadap PDB industri pengolahan. Tujuh subsektor sisanya masih berkontraksi, termasuk minuman, tekstil, kayu, kimia, barang galian bukan logam, barang logam bukan mesin, dan alat angkut lainnya.

Subsektor dengan IKI tertinggi bulan ini: tembakau dan kertas. Dua segmen yang jarang jadi sorotan, tapi cukup konsisten menyumbang nilai tambah. Dari sisi variabel, pesanan baru terkoreksi 0,77 poin ke 51,43 dan produksi amblas tipis 0,21 poin ke 51,34. Masih ekspansi, tapi tenaganya mulai kendur.

Pertanyaannya, apakah perlambatan IKI yang berturut-turut ini sinyal awal pendinginan, atau sekadar noise di siklus yang masih sehat? Kalau data ini bisa dipercaya, satu-dua bulan ke depan akan lebih bicara.