Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia melorot ke titik paling rendah dalam delapan bulan terakhir. Bank Indonesia mencatat IKK Mei 2026 di angka 120,9, turun 2,1 poin dari April yang masih terparkir di 123,0. Bukan sekadar koreksi teknikal biasa.
Terakhir kali IKK menyentuh level segini adalah September 2025, ketika gelombang demonstrasi di sejumlah daerah membuat suasana sosial-ekonomi dalam negeri memanas dan kepercayaan publik ikut amblas. Situasinya kini berbeda. Hasilnya, nyaris sama.
Secara teknis, angka di atas 100 masih zona optimistis. Tapi tren ini lain cerita.
Komponen paling babak belur ada di Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE), yang tergerus dari 115,1 di April menjadi 112,2 di Mei. Konsumen tidak cuma pesimis soal masa depan, mereka sudah merasakan hari ini tidak sebaik bulan lalu.
Penurunan paling dalam terlihat pada Indeks Penghasilan Saat Ini, yang amblas 4,9 poin ke level 123,2, dari posisi April di 128,1. Empat koma sembilan poin dalam sebulan. Persepsi soal penghasilan dibanding sekitar Desember 2025 memburuk cukup dalam, padahal awal tahun optimisme masyarakat masih solid.
Lapangan kerja pun terasa kian sempit di benak konsumen. Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja turun 3,8 poin ke 105,0, dari sebelumnya 108,8. Masih di atas 100, tapi marginnya kian tipis. Ketika peluang kerja terasa makin susah, pola belanja pun berubah: pengeluaran direm, prioritas dihitung ulang.
Konteks makro agaknya turut memperburuk suasana. Rupiah masih dibayangi tekanan terhadap dolar AS, sementara IHSG sempat dihajar koreksi cukup dalam beberapa waktu belakangan. Bagi sebagian masyarakat, dua indikator itu bukan angka di layar Bloomberg, itu sinyal bahwa ada yang tidak beres di luar sana.
Pertanyaannya: kalau persepsi soal penghasilan dan lapangan kerja terus melemah bulan depan, konsumsi rumah tangga ikut melambat? Konsumsi swasta menyumbang lebih dari separuh PDB Indonesia. Kalau bantalan itu goyah, masalahnya jauh lebih serius dari sekadar IKK yang turun dua poin.