RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  IKK Mei 2026 Turun ke 120,9, Konsumen Masih Optimi...

Ekonomi

IKK Mei 2026 Turun ke 120,9, Konsumen Masih Optimistis tapi Arahnya Perlu Diawasi

Indeks Keyakinan Konsumen Mei 2026 tercatat 120,9, turun dari 123,0 di April. Optimisme bertahan, tapi tekanan pada penghasilan dan lapangan kerja saat ini mulai terasa.

Konsumen Masih Optimistis pada Mei 2026, Meski Keyakinannya Menurun dari Bulan Sebelumnya

Keyakinan konsumen Indonesia masih bertahan di zona optimistis sepanjang Mei 2026, meski angkanya mulai melorot. Bank Indonesia mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) bulan Mei di level 120,9, turun 2,1 poin dari posisi April yang sebesar 123,0. Masih di atas ambang 100, artinya konsumen belum panik, eh, bukan em dash, konsumen belum panik, tapi arahnya patut dicermati.

Sisi yang mulai goyah ada di kondisi ekonomi saat ini. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) tergerus cukup dalam, dari 116,5 menjadi 112,2, penurunan 4,3 poin dalam sebulan. Tiga komponen penyusunnya kompak amblas: Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) turun dari 128,1 ke 123,2, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) melorot dari 108,8 ke 105,0, dan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (IPDG) menyusut dari 112,6 ke 108,3. Ketiganya masih di zona hijau, tapi trennya jelas searah: ke bawah.

Di tengah pelemahan IKE, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) justru bergerak naik, meski tipis sekali. IEK tercatat 129,7 pada Mei, naik 0,1 poin dari 129,6 di April. Ekspektasi ketersediaan lapangan kerja bergerak ke 128,1 dari 127,7, sementara ekspektasi kegiatan usaha naik ke 124,5 dari 124,1. Konsumen agaknya lebih percaya diri soal enam bulan mendatang ketimbang kondisi yang mereka rasakan hari ini, sebuah pola yang tidak selalu linear dengan realitas lapangan.

"Survei Konsumen Bank Indonesia pada Mei 2026 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap kuat," ujar Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso. Optimisme itu, kata Ramdan, ditopang persepsi positif terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi terhadap kondisi enam bulan ke depan, kalau itu klaim manajemen BI, angka IKE yang terus tergerus bisa jadi bahan perdebatan tersendiri.

Ada satu angka yang luput dari headline tapi menarik untuk disimak. Ekspektasi penghasilan, meski masih optimistis di level 136,5, turun tipis 0,4 poin dibanding April. Kecil memang. Tapi kalau tren ini berlanjut tiga bulan berturut-turut, ceritanya bisa berbeda.

Secara demografis, kelompok pengeluaran di atas Rp 5 juta per bulan masih yang paling pede, dengan IKK 124,6. Empat kelompok pengeluaran di bawahnya kompak mencatat penurunan. Dari sisi usia, generasi 20-30 tahun jadi yang paling optimistis dengan IKK 129,1. Entah kebetulan atau tidak, kelompok ini juga yang paling jauh dari tekanan cicilan KPR dan tanggungan keluarga besar.

Geografis punya cerita tersendiri. Kota-kota di Sumatera bagian selatan seperti Medan, Bandar Lampung, dan Palembang justru mencatat peningkatan IKK sekaligus IKE. Pontianak, Mataram, dan Banjarmasin masuk daftar kota dengan penurunan terbesar, keduanya bahkan tercatat melemah di dua indeks sekaligus.

Gambaran besarnya: konsumen belum menyerah. Tekanan pada daya beli dan penyerapan tenaga kerja saat ini sudah mulai meninggalkan jejak di data. Pertanyaannya, apakah ekspektasi yang masih tinggi itu akan terbukti, atau justru ikut terkoreksi menyusul kondisi kini yang terus menyempit?