Angka 3,08% itu bukan sekadar statistik. Lonjakan inflasi tahunan Indonesia sepanjang Mei 2026, dari 2,42% di April, mencerminkan tekanan yang sudah merembet dari pasar pangan hingga ke lantai-lantai pabrik yang bergantung pada bahan baku impor.
Riset terbaru BNI Sekuritas mengonfirmasi bahwa biang kerok utama lonjakan ini adalah harga pangan, yang masih betah di level tinggi dan diperkirakan tak akan jinak setidaknya hingga Juni. Sinyal lebih mengkhawatirkan datang dari inflasi inti, di luar komoditas emas, yang terkerek dari 1,34% menjadi 1,61% secara tahunan. Dua hal sekaligus terbaca dari sini: permintaan domestik mulai pulih, dan beban biaya produksi semakin banyak dioper produsen ke kantong konsumen.
Rupiah amblas 2,2% di awal Juni hingga melewati Rp18.000 per dolar AS. Level yang cukup untuk membuat kalkulasi impor bahan baku langsung berubah. Bogasari sudah merespons: harga tepung naik 2%, langkah kecil yang efeknya bisa panjang ke hilir.
Pemerintah memilih momen yang agak tidak populer untuk menaikkan harga Pertamax dan Pertamax Turbo, masing-masing 32% dan 4%, padahal harga minyak mentah global sudah melandai sekitar 10% seiring meredanya ketegangan AS-Iran. Agaknya, kalkulasinya lebih ke fiskal ketimbang ke psikologi pasar. BBM bersubsidi memang dijaga stabil, harga Dex dan Dexlite bahkan turun, tapi dampak kenaikan Pertamax tetap menggigit di segmen menengah.
Yang bikin kepala geleng justru kinerja pasar sahamnya. Consumer staples naik 2% secara bulanan, sektor ritel melesat 3%, sementara IHSG terjun 12% dalam periode yang sama. Bukan kebetulan, dan bukan anomali sesaat.
Emiten seperti PT Mayora Indah Tbk (MYOR) dan PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) membukukan momentum penjualan yang solid. Aktivitas belanja ritel pun merangkak naik pasca-libur panjang, sinyal bahwa daya beli masyarakat belum menyerah sepenuhnya meski tekanan makro terus mengimpit dari segala penjuru.
BNI Sekuritas memilih jalur hati-hati: Neutral untuk jangka pendek tiga bulan, dengan alasan risiko tekanan margin dari depresiasi Rupiah yang belum reda. Untuk cakrawala 12 bulan, mereka pasang Overweight, bertaruh pada kuatnya daya beli dan valuasi saham konsumer yang sudah di level menarik, kalau data ini bisa dipercaya.
Pilihan analis jatuh pada CMRY dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) di segmen staples, serta PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dan PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) di sisi ritel. Pertanyaannya sekarang: sampai kapan konsumen Indonesia masih sanggup menanggung beban inflasi, kurs, dan harga BBM sekaligus? Jawaban atas pertanyaan itulah yang akan membuktikan apakah rating Overweight BNI Sekuritas tepat sasaran, atau terlalu optimistis.