Tahun lalu adalah tahun yang berat buat PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG). Pendapatan ambles 18,35% year on year menjadi US$ 1,88 miliar. Yang lebih menyakitkan, laba bersih nyaris terpotong separuh, eh, anjlok 48,96% yoy menjadi US$ 190,94 juta. Bukan angka yang bisa ditutup-tutupi.
Harga batubara yang lesu sepanjang 2025 jadi biang keroknya. Tapi pertanyaan sekarang bukan soal apa yang sudah terjadi, melainkan apakah 2026 bisa jadi tahun pemulihan yang nyata.
Tiga kerikil tajam. Begitulah Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, merangkum hambatan yang masih menghadang ITMG tahun ini. Pertama, ketidakpastian persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang selama ini jadi momok emiten tambang. Kedua, lonjakan tarif pajak efektif sebagai imbas penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2025. Ketiga, ancaman kenaikan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO) yang berpotensi menggerus margin.
Risiko-risiko ini bukan baru. Pasar sudah tahu. Agaknya itulah yang membuat sebagian pelaku pasar mulai memperlakukannya sebagai faktor yang sudah terdiskon ke harga saham.
Satu sinyal positif datang dari sisi regulasi. Per 6 April 2026, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyetujui kuota produksi batubara nasional sebesar 580 juta ton. Abida menilai kepastian RKAB ini sebagai meredanya risiko terbesar yang sebelumnya menggantung di atas kepala emiten batubara, ITMG termasuk di dalamnya. Kalau data ini bisa dipercaya, kepastian regulasi inilah yang paling ditunggu pasar sejak awal tahun.
Dampak ketidakpastian RKAB selama ini terhadap perencanaan produksi memang tidak main-main. Bak bayang-bayang yang pelan-pelan menggerus kepercayaan investor, tiap kali angka kuota terkatung-katung, proyeksi pendapatan pun ikut tak bisa dipatok.
Di luar soal produksi, ITMG juga mengumumkan buyback saham dengan alokasi dana Rp 2,49 triliun, serta membagikan dividen tunai tahun 2025 sebesar US$ 114,58 juta. Dua langkah itu bisa dibaca sebagai sinyal bahwa manajemen masih percaya diri dengan kondisi neraca, meski kinerja operasional sedang tertekan. Setidaknya, itu klaim yang ingin disampaikan manajemen lewat aksi korporasi ini.
Apakah itu cukup untuk meyakinkan investor? Aksi korporasi semacam ini memang kerap jadi peredam volatilitas saat sentimen sektor belum sepenuhnya pulih. Entah kebetulan atau tidak.
Pertanyaannya, berapa lama tren perbaikan ini bertahan?
Pemulihan ITMG di 2026 pada dasarnya bertumpu pada dua asumsi: harga batubara yang tidak kembali melorot, dan kepastian regulasi yang terus membaik. Kalau salah satu meleset, laba yang sudah susut separuh itu bisa semakin tergerus. Skenario yang familiar buat siapa pun yang pernah mengikuti siklus batubara dari dekat.