Jakarta Fair Kemayoran 2026 resmi bergulir sejak 11 Juni dan bakal berlangsung sampai 12 Juli di JIEXPO Kemayoran, Jakarta Pusat. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pameran ini kembali jadi panggung unjuk gigi bagi para pelaku industri, dari otomotif listrik sampai perbankan digital, sekaligus ajang belanja warga yang sudah menandai kalender sejak jauh-jauh hari.
Salah satu yang paling agresif soal promo adalah PT Terang Dunia Internusa Tbk (UNTD), pemegang merek United E-Motor. Perusahaan ini memangkas harga jajaran produknya hingga 50 persen selama pameran berlangsung. United TX3000 yang normalnya dibanderol Rp 50,9 juta terjun ke Rp 23,79 juta. TX1800 dari Rp 34,9 juta jadi Rp 18,19 juta. Untuk segmen entry level, MX1200 dan MT1500 kini dipatok di kisaran Rp 11,8 juta hingga Rp 11,9 juta. Angka yang sulit diabaikan.
Belum cukup dengan diskon, UNTD juga menggandeng mitra pembiayaan untuk cicilan nol persen 12 bulan, plus cashback Rp 1 juta bagi konsumen yang bertransaksi lewat salah satu marketplace. Direktur UNTD Andrew Mulyadi menyebut Jakarta Fair sebagai momentum penting untuk mendekatkan kendaraan listrik ke masyarakat luas. Antusiasme, katanya, terus meningkat dari tahun ke tahun.
Di sudut lain kawasan pameran, Bank Jakarta memilih pendekatan yang berbeda. Bukan sekadar buka booth, mereka menghadirkan apa yang disebut "Engagement Store" di Hall C1 Anjungan Pemprov DKI Jakarta, dengan menggandeng Bli-Bli, salah satu e-commerce besar. Di sini pengunjung bisa buka rekening online lewat JakOne, ajukan kredit, hingga tarik setor tunai via ATM-CRM. Direktur Utama Bank Jakarta Agus H. Widodo menyampaikan bahwa kehadiran ini bagian dari upaya bank milik Pemprov DKI itu untuk tetap relevan bagi warga.
Masih di anjungan yang sama, booth Badan Pendapatan Daerah menerima pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama lewat EDC dan aplikasi JakOne Mobile. Entah kebetulan atau tidak, kolaborasi antara layanan pajak dan perbankan daerah dalam satu lokasi ini cukup praktis buat pengunjung yang kebetulan punya tunggakan PKB.
Namun dari lantai pameran, ada cerita lain yang tak kalah menarik. Sebagian pengunjung kini lebih berhati-hati soal pengeluaran karena harga sejumlah produk naik cukup terasa, ada yang mengaku sampai 30 persen dibanding PRJ tahun lalu. Tiket masuk pun ikut terkerek, dari Rp 50.000 ke Rp 60.000. Bukan lonjakan besar, tapi terasa saat dikalikan dengan pengeluaran di dalam.
Prisya, 29 tahun, salah satu pengunjung yang ditemui di lokasi, mengaku lebih selektif tahun ini. Ia memilih fokus mencoba produk makanan baru yang hanya ada di PRJ. "Karena sudah pernah makan (sebelumnya). Terus kalau nyari di luar ada, jadi coba yang baru adanya di sini," katanya. Prisya juga berharap pelaku usaha menyediakan pilihan harga yang lebih beragam, mengingat UMR Jakarta naik tidak sebanding dengan kenaikan harga di dalam pameran.
Pengunjung lain, Niken, 40 tahun, sudah datang bersenjata strategi: riset dulu di Google, catat tenant tujuan, tidak keliling semua hall. "Kalau kami lihat dulu di Google tujuannya ke mana, jadi kami enggak mau masuk semua hall, capek. Jadi kami sudah mindset ke sana," kata Niken. Cara yang, jujur saja, semakin banyak dilakukan orang saat tekanan daya beli belum sepenuhnya pulih. Niken pun mengakui beberapa produk naik harga sekitar 30 persen. Meski begitu, ia tetap datang karena kemasan dan bonus hadiah tahun ini dinilai lebih menarik ketimbang tahun lalu.
Soal logistik, Dinas Perhubungan DKI Jakarta menyiapkan enam kantong parkir di sekitar JIEXPO, termasuk di Blok B-7, B-14, C-3, C-4, MGK Mall, dan di dalam kawasan JIEXPO sendiri, dengan total kapasitas 4.967 kendaraan roda empat dan 5.650 roda dua. Kepala Dishub DKI Budi Awaluddin mengimbau pengunjung memanfaatkan transportasi umum dan tidak parkir sembarangan di badan jalan.
PRJ tetap jadi magnet. Tapi tahun ini, di antara promo motor listrik yang dihajar diskon dan booth bank digital yang bersolek, pertanyaannya agaknya lebih sederhana dari sebelumnya: apakah diskon 50 persen itu cukup mengimbangi daya beli yang kian tergerus?