Harga saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) rontok 13,2 persen hanya dalam dua sesi perdagangan, justru saat manajemen tengah mempersiapkan stock split 1:5 yang semestinya disambut antusias oleh pasar.
Dari level penutupan 3.720 pada 2 Juni 2026, RAJA dihajar tekanan jual hingga amblas 11,02 persen ke 3.310 pada 3 Juni, lalu lanjut melemah 2,42 persen ke 3.230 keesokan harinya. Koreksi dua hari beruntun ini terasa getir, mengingat konteksnya: aksi korporasi yang mestinya jadi katalis kenaikan malah diiringi kepanikan jual.
Di BEI, pengumuman stock split lazim memicu reli. Pasar biasanya sudah "price in" potensi lonjakan likuiditas dan membludaknya investor ritel jauh sebelum hari efektif. RAJA, agaknya, mendapat perlakuan berbeda kali ini.
Cerita arus dana asing cukup menarik dicermati. Pada 2 Juni, asing melepas RAJA dengan net sell Rp15,12 miliar, ikut memicu pelemahan awal. Ketika harga kemudian jeblok lebih dari 11 persen pada 3 Juni, sebagian institusi asing melihatnya sebagai peluang masuk dan berbalik akumulasi dengan net buy Rp8,20 miliar. Pembelian itu tidak berlanjut. Sehari kemudian, asing kembali mencatatkan net sell Rp1,42 miliar. Secara kumulatif selama 2-4 Juni, dana asing masih keluar bersih sekitar Rp8,34 miliar dari saham ini.
Pola itu bicara cukup jelas: belum ada conviction dari investor institusi untuk masuk secara serius. Akumulasi saat harga jatuh lebih terasa oportunistik jangka pendek, bukan rotasi portofolio yang terencana.
Konteks lebih besarnya perlu diingat. Harga RAJA sebenarnya sudah tergerus sekitar 40 persen sejak awal 2026, dari puncak yang sempat menyentuh Rp4.170 per saham pada 12 Mei 2026. Inilah salah satu alasan manajemen mendorong stock split. "Mengakibatkan nilai investasi minimum untuk 1 (satu) lot saham perseroan menjadi kurang terjangkau bagi sebagian investor," jelas Corporate Secretary RAJA Yuni Pattinasarani dalam keterbukaan informasi kepada investor.
Rencana teknisnya sudah cukup matang. Setiap satu lembar saham akan dipecah menjadi lima lembar baru, mengubah nilai nominal dari Rp25 menjadi Rp5 per saham, sementara total saham beredar melonjak dari 4,23 miliar menjadi 21,14 miliar lembar. BEI sudah memberi persetujuan prinsip sejak 5 Mei 2026. Kalau pemegang saham merestui dalam RUPS 23 Juni mendatang, perdagangan dengan nominal baru diperkirakan mulai berlaku 16 Juli 2026.
Pemegang saham terbesar saat ini adalah PT Sentosa Bersama Mitra dengan 35,44 persen, diikuti Hapsoro pribadi 27,52 persen, PT Basis Utama Prima 12,38 persen, dan publik 24,13 persen.
MNC Sekuritas tetap konstruktif. Sekuritas ini mempertahankan strategi buy on weakness dengan analisis bahwa RAJA kini berada pada wave 5 dari wave (C) dari wave [A], artinya koreksi yang terjadi masih bagian dari struktur yang lebih besar sebelum pemulihan. Akumulasi bertahap direkomendasikan di kisaran Rp2.440 hingga Rp2.880 per saham, dengan target harga pertama Rp3.860 dan target kedua Rp4.750. Stop loss ditempatkan di bawah Rp2.310.
Bagi investor ritel, kalkulasinya sederhana. Dari area beli yang disarankan MNC Sekuritas ke target tertinggi, potensi kenaikannya memang menggiurkan. Tapi jarak antara harga sekarang dan area akumulasi ideal itu masih lumayan jauh. Pertanyaannya: berapa dalam RAJA harus turun dulu sebelum pemulihan itu tiba? Klaim rebound, untuk saat ini, masih perlu dibuktikan pergerakan harga itu sendiri.