RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Jemaah Haji Jadi Pintu Masuk: Indonesia dan Saudi...

Finansial

Jemaah Haji Jadi Pintu Masuk: Indonesia dan Saudi Buka Lembaran Baru Pariwisata

Di luar Mekah dan Madinah, Arab Saudi ingin jemaah haji dan umrah asal Indonesia mengenal lebih banyak destinasinya. Indonesia pun menyiapkan Pusat Bahasa Arab di Lombok untuk menyambut balik wisatawan Saudi.

Sambut Turis Arab Saudi, Indonesia Siapkan Pusat Bahasa Arab di Lombok

Perjalanan ibadah selama ini jadi satu-satunya alasan mayoritas orang Indonesia menginjak tanah Arab Saudi. Kedua pemerintah kini sepakat, pola itu sudah waktunya berubah.

Dalam pertemuan bilateral di sela Sidang ke-126 Dewan Eksekutif United Nations Tourism Organization di Toledo, Spanyol, Kamis (11/6/2026), Menteri Pariwisata Arab Saudi Ahmed Al-Khateeb dan Menteri Pariwisata RI Widiyanti Putri Wardhana menandai babak baru hubungan pariwisata dua negara. Bukan sekadar berjabat tangan dan foto bersama. Pertemuan itu menghasilkan peta jalan konkret: perluasan arus wisatawan dua arah, penguatan sumber daya manusia, dan diversifikasi destinasi yang selama ini terlalu terpusat di Mekah dan Madinah.

Salah satu poin paling menarik dari pertemuan ini adalah usulan Indonesia untuk mendirikan Pusat Bahasa Arab dan Perhotelan di Politeknik Pariwisata Lombok. Idenya sederhana tapi tepat sasaran: tenaga kerja pariwisata Indonesia perlu fasih berbahasa Arab dan paham betul karakter wisatawan Timur Tengah sebelum berharap dompet mereka terbuka lebar di Bali, Lombok, atau destinasi lain. Wisatawan Saudi bukan segmen yang bisa dilayani asal-asalan.

Dari sisi Arab Saudi, arah strateginya juga jelas. Negara itu sedang dalam proses besar mendiversifikasi ekonomi dari ketergantungan minyak, dan sektor pariwisata jadi salah satu tumpuan utama. Jemaah haji dan umrah dari Indonesia, yang jumlahnya ratusan ribu per tahun, dilihat sebagai captive market yang potensial. Selama ini potensi itu terbuang percuma karena itinerary jemaah hampir tidak pernah keluar dari dua kota suci. Bak gayung bersambut, dua kepentingan nasional ini akhirnya bertemu di Toledo.

"Kami kini bekerja sama erat dengan mitra Indonesia untuk memperkuat hubungan tersebut, memperluas pertukaran wisatawan, meningkatkan pengalaman pengunjung, serta menciptakan peluang bagi destinasi, pelaku usaha, dan masyarakat," ujar Al-Khateeb. Framing yang dipakai bukan charity atau diplomasi agama. Bisnis, titik.

Kedua delegasi juga meninjau perkembangan implementasi nota kesepahaman yang sudah berjalan, sekaligus menjajaki skema baru untuk memperkaya perjalanan jemaah Indonesia dengan kunjungan ke destinasi sejarah, budaya, alam, hingga hiburan di luar kota suci. Wisata ke Al-Ula, Diriyah, atau kawasan Laut Merah yang tengah dikembangkan Saudi bisa jadi paket tambahan yang menggiurkan, kalau infrastruktur pendukungnya benar-benar siap.

"Arab Saudi adalah salah satu mitra utama Indonesia di Timur Tengah, dan Indonesia siap memperdalam kemitraan ini, khususnya di sektor pariwisata, dengan semangat saling menghormati dan saling menguntungkan," kata Widiyanti.

Di luar bilateral Indonesia-Saudi, Al-Khateeb juga bertemu Menteri Perdagangan, Pariwisata, dan Usaha Kecil Menengah Prancis Serge Papin dalam rangkaian agenda yang sama. Dua negara itu menyepakati program bersama di bidang pengembangan SDM, investasi, pemanfaatan AI, hingga pengelolaan destinasi berkelanjutan. Prancis sendiri meraup lebih dari 100 juta wisatawan mancanegara sepanjang 2024. Angka yang patut membuat banyak negara, termasuk Saudi, merasa masih punya pekerjaan rumah panjang.

Buat pelaku industri pariwisata domestik, sinyal dari Toledo ini perlu direspons serius. Pasar wisatawan Timur Tengah selama ini belum digarap optimal, sebagian karena kendala bahasa, sebagian lagi karena minimnya pemahaman soal preferensi mereka. Pertanyaannya: kalau Pusat Bahasa Arab di Lombok benar-benar terealisasi dan menghasilkan SDM kompeten, apakah industri siap menyerap dan memanfaatkannya? Atau cuma jadi program seremonial yang mangkrak setelah satu tahun anggaran?