Dari lebih dari 3,56 juta jiwa menjadi sekitar 2,2 juta. Itulah angka yang diklaim pemerintah sebagai pencapaian pengentasan kemiskinan ekstrem dalam satu setengah tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Bukan angka kecil.
Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara membeberkan data itu di sela peluncuran buku Xi Jinping: The Governance of China (Volume V) di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Selasa (28/4). Konteks acaranya sudah bicara banyak: Indonesia secara terbuka mengakui sedang belajar dari Beijing soal memangkas kemiskinan.
"Ada satu masalah yang membuat para pemimpin tetap terjaga di malam hari, yakni kemiskinan. Ini bukan sekadar soal ekonomi, tapi soal martabat," ujar Iftitah. Keberhasilan pembangunan, kata dia, tidak bisa hanya diukur dari gedung tinggi di kota besar, tapi dari apakah desa-desa dan daerah perbatasan ikut merasakan kemakmuran.
Sentimen ini agaknya kian menguat di kalangan pengambil kebijakan. Survei nasional yang digelar pada 4-12 Maret 2026, yang dipaparkan Ketua MPR Ahmad Muzani di forum yang sama, menunjukkan 28,2 persen responden menyebut China sebagai negara rujukan pembangunan bagi Indonesia. Muzani menilai angka itu mencerminkan meningkatnya skeptisisme terhadap model demokrasi Barat yang dinilai tidak selalu mampu menghadirkan pemerataan.
Lantas, apa saja yang sedang diadopsi?
Iftitah menyebut tiga pilar utama. Pertama, industrialisasi dan hilirisasi di kawasan transmigrasi. Pendekatan ini terinspirasi langsung dari kunjungan ke Yichang, China, tempat lebih dari satu juta warga berhasil dipindahkan akibat pembangunan PLTA lalu diserap ke industri hilir. Kedua, pendidikan vokasi yang terintegrasi dengan kebutuhan lapangan kerja lokal, termasuk rencana pembangunan SMK di Merauke, Papua, bekerja sama dengan pihak China. Ketiga, peningkatan produktivitas pertanian lewat riset padi bersama mitra internasional, dengan target hasil panen naik dari dua ton per hektare menjadi enam hingga delapan ton.
Ada satu contoh yang cukup menohok. Durian Sulawesi Tengah, yang sebelumnya melimpah tanpa pembeli dan hanya dihargai Rp4.000-5.000 per butir, kini menembus pasar ekspor China sebagai durian frozen dengan harga di atas Rp25.000 per butir. "Market di China untuk komoditas ini mencapai Rp120 sampai Rp137 triliun," sebut Iftitah. Hilirisasi sederhana, dampaknya langsung terasa di kantong petani.
Masif? Bisa jadi.
Program transmigrasi sendiri direvitalisasi bukan sekadar sebagai program pemindahan penduduk, melainkan sebagai mesin pencipta pusat pertumbuhan baru. Bukan bantuan sementara, kata Iftitah, tapi transformasi struktural. Kawasan transmigrasi di Sumatera Selatan, misalnya, tercatat menyumbang 40 persen produksi padi dari wilayah itu.
Klaim penurunan kemiskinan ekstrem sekitar 38 persen dalam 18 bulan jelas bukan klaim main-main. Validasinya, kalau data ini bisa dipercaya, bergantung pada metodologi BPS yang belum dirilis resmi. Pertanyaannya, berapa lama tren ini bertahan? Setidaknya itu klaim manajemen kebijakan di Jakarta. Tapi kalau angkanya kelak terkonfirmasi, ini bisa jadi salah satu argumen terkuat bagi keberlanjutan pendekatan pembangunan Prabowo yang semakin terang-terangan mengambil inspirasi dari timur.