RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Konflik Timur Tengah Ancam Pasokan Energi RI, Pert...

Ekonomi

Konflik Timur Tengah Ancam Pasokan Energi RI, Pertamina Diminta Tidak Sekadar Tunggu Krisis

Deputi Geostrategi DPN memperingatkan bahwa eskalasi geopolitik di Timur Tengah mengancam 20% pasokan migas Indonesia, mendorong Pertamina Group untuk beralih dari manajemen krisis reaktif ke pendekatan berbasis data yang proaktif.

Soroti Konflik Timur Tengah, Mayjen TNI Frega Wenas Mengajak Proaktif Dalam Mitigasi Risiko Di Pertamina Risk Managemen

Dua puluh persen. Dari sanalah kekhawatiran itu bermula.

Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas nasional mengalir dari kawasan yang kini sedang panas. Angka itu diungkap Deputi Geostrategi Dewan Pertahanan Nasional (DPN), Mayjen TNI Dr. Frega F. Wenas Inkiriwang, Ph.D., FHEA, saat menjadi Keynote Speaker di Risk Management Forum (RMF) Lintas Grup Pertamina, Selasa (21/7), di Function Hall lantai 6 Oil Centre, Jakarta Pusat. Forum yang diinisiasi PT Pertamina International Shipping (PIS) ini mengumpulkan jajaran direksi, komisaris, hingga Chief Risk Officer dari seluruh entitas Pertamina Group secara hybrid.

Frega membawakan materi bertajuk "Risiko Geopolitik pada Bisnis Sektor Maritim di Tanah Air". Ia memaparkan bagaimana dinamika di Timur Tengah telah memicu lonjakan harga minyak dan gas global. Lebih dari itu, ada ancaman yang sifatnya fisik: disrupsi pada jalur distribusi logistik akibat blokade atau ketegangan militer, dengan Selat Hormuz sebagai titik paling rentan. Salah satu chokepoint paling vital di dunia. Kalau jalur itu terganggu, rantai pasokan energi nasional bisa ikut oleng.

Sebagai negara net importer, posisi Indonesia dalam skenario ini tidak menguntungkan. Volatilitas kurs yang mengikuti gejolak harga minyak akan langsung menghantam anggaran. Beban APBN makin berat, ruang fiskal makin sesak. Bukan kondisi yang nyaman untuk dihadapi tanpa persiapan.

"Kita harus bergeser dari sekadar merespons krisis menjadi mengantisipasinya," kata Frega di hadapan para petinggi Pertamina Group. Ia mendorong manajemen membangun tata kelola risiko berbasis data komprehensif, bukan bereaksi setelah keadaan sudah memburuk. Pendekatan proaktif itu, menurutnya, krusial untuk melindungi aset, memastikan kepatuhan regulasi, dan mempercepat pengambilan keputusan strategis demi menjaga keberlangsungan bisnis jangka panjang.

Forum bertema "Sailing Through Uncertainty, Sustaining Continuity" ini, kalau data pesertanya bisa dijadikan cermin, menunjukkan bahwa Pertamina Group tidak lagi memperlakukan geopolitik sebagai urusan pinggiran. Bukan cuma risiko operasional atau finansial konvensional yang jadi perhatian, tapi ancaman yang bisa berubah dalam hitungan jam di belahan dunia lain.

Direktur Utama PIS Surya Tri Harto membuka forum lewat welcome speech. Selain Frega, hadir pula Dr. Fabian Buddy Pascoal, S.H., LL.M., Senior Partner HPRP (Dentons) Law Office, yang membahas penguatan aspek hukum dalam merespons risiko geopolitik. Kombinasi perspektif militer-strategis dan legal dalam satu forum bukan kebetulan, agaknya, mengingat ancaman yang dibahas memang bersifat multidimensi.

Bagi investor yang memegang saham BUMN energi, forum ini layak dibaca lebih dari sekadar agenda internal korporasi. Ketika otoritas pertahanan nasional turun langsung bicara soal risiko bisnis di depan jajaran Pertamina, pesannya cukup eksplisit: situasinya serius, dan manajemen risiko bukan lagi formalitas yang bisa dikerjakan asal-asalan.