Jumat pagi ini pasar Asia dibuka dengan satu warna: merah. Kospi Korea Selatan memimpin kejatuhan dengan ambles 6,46% ke level 8.621,4, sementara saham-saham unggulan Samsung Electronics dan SK Hynix masing-masing tergerus 6% dan 8% dalam hitungan jam pertama perdagangan. Indeks berkapitalisasi kecil Kosdaq ikut terjun 4,94%.
Nikkei 225 Jepang turun 1,84% ke 66.229,25. Padahal dua hari sebelumnya, indeks ini sempat mencetak level tertinggi di atas 68.177 dan membuat investor Asia sesaat lupa pada segala risiko yang mengintai. Hang Seng melemah 0,27% ke 25.186,12, Taiex tergerus 0,52% ke 45.438,99, dan ASX 200 turun 0,75%. Hampir tidak ada yang selamat pagi ini.
Broadcom. Itulah pemicunya. Saham produsen chip AS itu ambruk lebih dari 12% semalam setelah pendapatan kuartal kedua fiskalnya meleset dari perkiraan analis, dan pukulan itu langsung menjalar ke saham-saham semikonduktor global. ETF VanEck Semiconductor kehilangan lebih dari 1%, Arm Holdings turun lebih dari 4%, Micron Technology amblas hampir 8%. Bagi bursa Asia yang dalam beberapa pekan terakhir mengandalkan euforia AI sebagai mesin utama kenaikan, koreksi ini ibarat rem mendadak di jalan tol.
Rotasi sektoral di Wall Street semalam menambah kerumitan. Dow Jones melonjak 874,86 poin atau 1,73% ke rekor tertinggi baru di 51.561,93, tapi kenaikan itu didorong pelarian dari saham teknologi ke sektor lain, bukan reli murni. Nasdaq Composite ditutup turun tipis 0,09% ke 26.830,96, dan S&P 500 naik moderat 0,41% ke 7.584,31. Sinyal yang berbeda dari yang selama ini dibaca investor Asia.
Faktor geopolitik juga ikut bermain, meski agaknya dampaknya lebih ke psikologi pasar ketimbang fundamental langsung. Ketegangan AS-Iran belum punya kepastian. Komando pusat AS sebelumnya menembakkan rudal balistik dan drone di kawasan Timur Tengah sebagai tanggapan atas serangan Iran, sementara Hizbullah pada Kamis menolak proposal gencatan senjata yang didukung AS di Lebanon. Pesan-pesan dari meja negosiasi masih simpang siur, dan ketidakpastian itu cukup untuk membuat pelaku pasar menahan diri.
Harga minyak AS sempat naik seiring laporan serangan rudal, lalu stabil ketika spekulasi diplomatik mulai beredar, investor bertaruh AS dan Iran semakin dekat ke terobosan. Bagi pasar Asia, volatilitas harga energi ini menjadi satu lagi variabel yang harus dicerna bersamaan dengan koreksi sektor teknologi.
Strategis Louis Navellier dalam catatannya pernah menyebut bahwa resolusi Iran bisa menjadi katalis keuntungan materiil lebih lanjut bagi pasar. Kalau data ini bisa dipercaya, tentu kabar bagus. Tapi per Jumat pagi ini, pernyataan itu terasa seperti janji yang masih jauh panggang dari api.
Nikkei sendiri dalam tiga hari terakhir bergerak liar: dari rekor tertinggi, langsung berbalik ke zona merah. Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda dijadwalkan berbicara, dan pasar menunggu petunjuk soal arah suku bunga yang turut menentukan posisi yen dan daya tarik aset Jepang. Kelas aset mana pun yang kamu pegang di Asia saat ini, akhir pekan ini datang dengan pekerjaan rumah yang tidak sedikit.