Sepanjang pekan ini, Kuba bergerak pada dua sisi sekaligus: Washington menjatuhkan sanksi terhadap Cubapetroleo, perusahaan minyak negara yang dikenal sebagai CUPET, sementara Havana memilih merespons bukan dengan retorika semata, melainkan dengan merombak fondasi ekonominya dari dalam.
Jumat (12/6), Presiden Miguel Diaz-Canel mengumumkan serangkaian usulan restrukturisasi ekonomi yang agaknya jadi pergeseran paling jauh dari model ekonomi terpusat warisan Revolusi Kuba. Intinya: desentralisasi. Pemerintah kota diberi wewenang mengimpor, mengekspor, mengelola pendapatan valas, dan mengawasi investasi asing langsung di wilayah masing-masing tanpa harus menunggu restu Havana.
Kalau benar dijalankan penuh, ibarat memindahkan kemudi dari satu tangan ke banyak tangan.
Diaz-Canel secara eksplisit menuding kebijakan pemerintahan Donald Trump sebagai pemicunya. "Amerika Serikat tidak dapat memaafkan fakta bahwa, setelah semua tekanan maksimum yang telah mereka berikan, revolusi masih ada dan negara ini terus berfungsi," katanya dalam konferensi pers tertutup. Narasi perlawanan dari Havana memang bukan barang baru, tapi kali ini diikuti proposal konkret yang lebih dari sekadar jargon.
Sanksi terhadap CUPET memperparah kondisi energi pulau yang sudah kritis sejak lama. Ketergantungan Kuba pada bahan bakar fosil impor jadi titik lemah yang terus dieksploitasi Washington. Sebagai tameng, pemerintah mendorong masuknya perusahaan asing yang menawarkan sistem fotovoltaik. Targetnya: mengurangi ketergantungan pada pembangkit listrik berbasis bahan bakar, sektor demi sektor.
Di sisi investasi, reformasi yang diusulkan membuka jalur yang selama ini tersumbat birokrasi. Diaz-Canel menyebut perlunya pemberian hak penggunaan lahan, pemangkasan hambatan administratif, dan percepatan persetujuan investasi. Satu hal yang patut dicermati, bisa jadi ini pertama kalinya Havana secara terang-terangan menyebut diaspora Kuba di luar negeri sebagai kelompok investor potensial yang diperlakukan setara dengan penanam modal asing konvensional.
Kedaulatan pangan turut masuk daftar prioritas. Pemerintah mendorong pasar pertanian lokal dan memperluas akses mata uang asing lewat mekanisme pasar valuta asing. Paket ini mencakup pula insentif untuk bisnis pariwisata dan impor teknologi terbarukan.
Pertanyaannya wajar: seberapa jauh reformasi ini bisa berjalan di bawah sistem satu partai yang puluhan tahun mempertahankan kendali terpusat sebagai identitas ideologisnya? Desentralisasi ekonomi dan ekspansi sektor swasta asing pada dasarnya bertentangan dengan logika ekonomi terencana yang selama ini dijaga ketat Partai Komunis Kuba. Sanksi AS, khususnya yang kini menghantam urat nadi energi lewat CUPET, tampaknya memaksa pragmatisme mengalahkan dogma.
Untuk investor yang melirik kawasan Karibia, reformasi ini layak dipantau, entah kebetulan atau tidak, momentumnya datang tepat saat tekanan eksternal mencapai titik didih. Klaim yang bagus, kalau implementasi di lapangan mau mengikuti.