Paruh pertama 2026 jadi periode yang cukup produktif bagi PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Laba bersih bank only tembus Rp28,5 triliun per Juni 2026, tumbuh 25% dibanding Rp22,8 triliun pada semester I-2025. Bukan angka yang datang dari langit, karena mesin pertumbuhan di baliknya terbilang solid.
Fondasi utama kinerja ini adalah ekspansi kredit yang agresif. BMRI menyalurkan kredit sebesar Rp1.591,67 triliun sepanjang enam bulan pertama tahun ini, tumbuh 19,9% secara tahunan. Hampir dua kali lipat laju pertumbuhan kredit industri yang hanya 12,7% di periode yang sama. Aset konsolidasi ikut melar 19,1% menjadi Rp2.349,19 triliun.
Dari sisi pendanaan, DPK naik 17,1% year-on-year menjadi Rp1.710 triliun. Cukup untuk menopang ekspansi kredit tanpa mengorbankan likuiditas. Total pendapatan naik 10,3% menjadi Rp6,7 triliun, dan efisiensi membaik: total beban turun 5,73% menjadi Rp35,6 triliun.
Kualitas aset? Terjaga. NPL gross bertengger di 0,98%, turun 10 basis poin. Rasio Loan at Risk (LAR) membaik menjadi 5,93%, turun lebih dari satu persentase poin. Cost of credit hanya 0,52%. Nyaris tidak bergerak.
Satu catatan yang agaknya perlu dicermati investor adalah tekanan pada net interest margin. NIM turun 26 basis poin menjadi 4,37%, dari 4,63% pada semester I-2025. Imbal hasil kredit tergerus 74 bps dalam setahun menjadi 7,01%, sinyal bahwa repricing di siklus suku bunga yang mulai longgar sudah terasa di buku aset bank.
Gambaran lebih granular muncul dari data kuartal pertama. Per Maret 2026, laba bersih konsolidasi BMRI sudah mencapai Rp15,4 triliun, tumbuh 16,6% dibanding Rp13,2 triliun di kuartal I-2025. Kredit bank only tercatat Rp1.530 triliun, naik 17,4% YoY. Net interest income kuartal pertama tumbuh 11,1% menjadi Rp21,2 triliun, dengan pendapatan non-bunga naik 4,41% menjadi Rp8,24 triliun. Total pendapatan konsolidasi kuartal pertama mencapai Rp29,4 triliun. Adapun LAR di periode itu masih di 6,13%, sedikit lebih longgar sebelum kemudian menetat ke 5,93% per Juni.
Apakah laju ini bertahan di paruh kedua? Tekanan NIM yang mulai menggigit, ditambah ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan, bak pedang bermata dua bagi BMRI. Kredit tumbuh kencang, tapi spread-nya makin tipis. Bagi investor, itulah dilema yang layak dipertimbangkan sebelum klik tombol beli berikutnya.