RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  Lima Bank Menengah Berlomba Ekspansi: Siapa Paling...

Finansial

Lima Bank Menengah Berlomba Ekspansi: Siapa Paling Disiplin Mengeksekusi?

BBTN tahan dividen demi akuisisi kredit jumbo, BDMN terbang 55% dalam seminggu imbas rumor merger MUFG. Lima bank kelas menengah serempak agresif, tapi bukan tanpa risiko.

Sepekan terakhir, kejutan datang bukan dari big four. Justru dari lapis kedua.

Lima nama mendominasi perbincangan pasar: PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP), PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN), PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), dan PT Bank Permata Tbk (BNLI). Masing-masing sedang dalam mode ekspansi, dengan pendekatan yang berbeda. Tapi ada benang merah yang sama: tidak ada yang mau puas dengan tumbuh organik saja.

Mulai dari BBTN. Kamis kemarin (23/4/2026), RUPS memutuskan tidak ada dividen dari laba tahun buku 2025. Dividend payout ratio: nol persen. Seluruh laba ditahan untuk memperkuat modal demi satu tujuan, yakni akuisisi portofolio kredit produktif dan konsumtif bernilai triliunan rupiah.

Nilai akuisisi itu disebut melampaui 20 persen dari modal perseroan. Wajar kalau opsi penerbitan Additional Tier 1 atau penyertaan modal negara sempat masuk pertimbangan, tapi keduanya butuh waktu panjang. BPI Danantara sebagai pengendali akhirnya sepakat: laba ditahan paling efisien.

Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu menyebut portofolio yang dibidik punya yield lebih tinggi dan kualitas aset lebih sehat, dengan NPL di bawah 3 persen. Detail lengkap dijanjikan rampung dalam perjanjian resmi pada 13 Mei mendatang.

Bersamaan itu, BBTN tengah menyelesaikan akuisisi Bank Victoria Syariah senilai sekitar Rp1,6 triliun yang diteken sejak Juni 2025. Integrasi sudah di tahap akhir. Strukturnya relatif mulus karena aset Bank Victoria Syariah didominasi Surat Berharga Negara, dan ini menjadi fondasi spin-off BTN Syariah.

Langkah NISP tidak kalah ambisius. Bank ini membidik aset ritel HSBC di Indonesia senilai sekitar Rp6 triliun, dan posisinya agaknya masih sebagai penawar utama. Ini ekspansi berikutnya setelah mencaplok Bank Commonwealth pada Mei 2024 seharga Rp2,22 triliun, yang membawa masuk sekitar 1,2 juta nasabah baru ke ekosistem OCBC.

Dampak integrasi sudah terbaca di laporan keuangan 2025. Dana pihak ketiga terkerek 18 persen ke Rp244 triliun, aset naik hampir 10 persen ke Rp308 triliun. Yang paling mencolok bukan angka kredit. Fee based income melonjak lebih dari 140 persen menjadi Rp2,1 triliun, ditopang kekuatan di segmen wealth management. Net interest margin memang tergerus ke 3,9 persen, tapi cerita besarnya di sini adalah diversifikasi. NISP sedang membangun model bisnis yang tidak terlalu bergantung pada spread bunga.

BDMN jadi yang paling ramai. Rumor merger dengan induknya, Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG), membuat harga saham melesat lebih dari 55 persen dalam seminggu. Valuasi, kata sejumlah sumber, bisa mencapai Rp8.000 per saham.

Patut dicermati, entah kebetulan atau tidak, merger yang kemungkinan terjadi bukan seluruh grup MUFG, melainkan hanya entitas MUFG yang beroperasi di Indonesia sebagai kantor cabang. Di 2025, kantor cabang itu membukukan laba bersih Rp6,31 triliun. BDMN sendiri mengantongi Rp3,97 triliun dengan skala kredit yang setara. Selisih itu mencerminkan model bisnis MUFG yang lean: fokus kredit korporasi besar, tanpa beban jaringan ritel.

Jika merger terjadi, jangan bayangkan angka laba MUFG bisa langsung dijumlahkan ke BDMN. Ada penyesuaian pricing kredit, biaya operasional, dan pengelolaan portofolio yang tidak bisa diabaikan. Kontribusinya ke laba BDMN kemungkinan positif, tapi tidak akan sebesar kalkulasi aritmatika sederhana. Matematika merger jarang semulus di atas kertas.

Fundamental BDMN sendiri sudah membaik sebelum kabar MUFG itu ramai. Integrasi bisnis ritel Standard Chartered yang rampung akhir 2023 mulai terasa penuh di 2025: total kredit naik 16 persen ke Rp176,9 triliun, laba bersih tumbuh 14 persen, NPL membaik ke 1,7 persen. Pondasi solid.

BNGA memilih jalur berbeda. Bukan akuisisi, tapi spin-off Unit Usaha Syariah menjadi entitas baru bernama PT Bank CIMB Niaga Syariah, dijadwalkan mulai beroperasi 4 Mei 2026. Izin prinsip OJK sudah dikantongi sejak Januari 2026. Mitra strategisnya: PT Commerce Kapital.

Targetnya agresif. Aset bank syariah baru ini diproyeksikan menembus Rp100 triliun pada 2030, dengan strategi ekspansi di ritel dan UKM plus layanan bullion bank yang masih terbilang niche di Indonesia. Spin-off ini bukan sekadar memenuhi kewajiban regulasi, tapi diarahkan sebagai mesin pertumbuhan baru.

BNLI menutup daftar ini dengan cerita yang paling matang. Rp33,7 triliun. Segitu harga yang dibayar Bangkok Bank untuk mengakuisisi 89,12 persen saham BNLI pada Mei 2020, dan kini fase panen sudah dimulai. Kuartal pertama 2026 mencatat laba bersih Rp920,1 miliar, tumbuh 16,6 persen secara tahunan. Loan at Risk membaik dari 7,6 persen ke 6,4 persen. Capital adequacy ratio di atas 30 persen. Ruang ekspansi luas.

Pertumbuhan kredit BNLI memang terbatas, hanya 2,8 persen tahunan. Tapi profitabilitas ditopang fee-based income yang naik 11,9 persen. Strategi hati-hati, hasil konsisten. Klasik.

Lima bank, lima strategi. Pertanyaannya bukan siapa yang paling nekat berekspansi, tapi siapa yang paling disiplin mengeksekusi. Aksi korporasi itu mudah diumumkan. Integrasi yang berjalan mulus? Itu cerita lain.